Halaman

    Social Items

Anak ditinjau dari Perspektif Islam
Anak ditinjau dari Perspektif Islam. Anak ialah anugerah terindah sekaligus juga amanah (titipan) yang Allah beri pada orangtua. Hingga orangtua mempunyai tanggungjawab yang besar dalam membesarkan serta mendidik dalam semua segi kehidupan. Tidak hanya menjadi amanah (titipan) anak sebagai keturunan (dzuriyah), tempat kita melanjutkan harapan serta garis keturunan. Seperti doa Nabi Zakaria AS dalam QS. Ali Imran: 38: Disanalah Zakaria mendoa pada Rabbnya sambil berkata: “wahai Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau dzurriyah tayyibah (seorang anak yang baik). Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” Anak dapat membuat senang hati kedua orang tuanya pada saat anak itu berbakti pada mereka, dan patuh dalam menunaikan ibadahnya. Akan tetapi anak dapat juga jadi fitnah (ujian) buat kedua orang tuanya, pada saat anak itu tidak berbakti dan tidak patuh melaksanakan ibadah ditambah lagi jika sampai ikut serta atau terlibat dalam permasalahan kriminal atau kenakalan remaja yang lain. Demikian sebaliknya bila ada anak yang membuat kedua orang tuanya senang dan bangga dengan beberapa prestasi yang diperolehnya hingga mengangkat harkat serta martabat keluarga di muka umum karena itu anak itu jadi perhiasan (zinah) untuk keluarganya.

Agama ialah fondasi yang sangat kuat yang dapat membentengi seorang dari semua hal negatif. Penanaman nilai-nilai agama pada anak mesti ditanamkan semenjak awal. Jiwa beragama atau kesadaran beragama berujuk pada ruhaniyah individu yang terkait2 pada Allah SWT serta pengaktualisasiannya lewat peribadatan kepadaNya, baik yang berbentuk hablumminallah ataupun hablumminannaas.

Oleh karenanya orangtua sebaiknya memerhatikan keperluan dalam perkembangan serta perubahan anak-anaknya supaya jadi anak yang sehat, baik jasmani ataupun rohani serta berakhlak mulia dan mempunyai kecerdasan yang tinggi.

Dalam islam anak miliki potensi menyandang status yang saling berlawanan, dapat membahagiakan, dapat juga mencelakakan. Dalam hal seperti ini arahan serta langkah mendidik orangtua pada anak begitu menentukan posisi itu khususnya tingkah laku/ etika orang tuanya. Karena suatu yang tampak semakin lebih kuat dampaknya dibanding suatu yang cuma di ketahui lewat indera pendengaran.

Berkaitan dengan eksistensi anak, Al-Quran menyebutkannya dengan istilah-istilah diantaranya:

Anak sebagai Amanah (Titipan) 


Anak adalah titipan harta yang sangat bernilai yang perlu dijaga, dirawat serta dididik supaya jadi penyejuk hati. Dalam masalah ini, kita mesti meneladani sikap Nabi Zakaria AS serta Nabi Ibrahim AS. Kedua Nabi ini selalu berdoa pada Allah Maha Pencipta.

“Dan orang-orang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. AlFurqon: 74)

Setelah diberi amanah oleh Allah, Nabi Ibrahim di masa tuanya tidak pernah berhenti bersyukur.

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Isma’il dan Ishaq. Sungguh Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (QS. Ibrahim :39)

Akan tetapi, belakangan ini demikian seringkali kita dengar, anak malah sering jadi sasaran kemarahan orangtua. Begitu juga kerap kita membaca atau mendengar dan melihat, kedua orangtua demikian teganya membuang bayi yang barusan dilahirkan. Ada yang dengan gampangnya memukul anak diluar kemampuan anak itu untuk menerimanya. Disulut rokok, disetrika, bahkan juga paling akhir dapat kita baca, dipukul menggunakan linggis sampai meninggal. Di lain sisi, ada pula orangtua yang jadikan anak seperti barang rebutan. Naudzubillahi min dzalik! Udah demikian tipiskah perasaan sayang orangtua pada anaknya, walau sebenarnya amanah mendidik serta menjaga anak itu yang pada waktunya mesti dipertanggungjawabkan di mahkamah Allah nantinya.

Dalam hal mendidik anak, Rasulullah SAW ialah sebaik-baiknya teladan. Pada diri Nabi diketemukan figur pendidik yang menghormati anak. Rasulullah sering menyuapi anak-anak kecil dengan kurma yang telah dimamahnya. Penuhnya hati Rasul dengan kasih sayang, membuat Beliau tidak geram saat dalam shalatnya yang kusyuk punggung Beliau dinaiki cucunya, Hassan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau justru melamakan sujudnya, sampai cucunya itu turun. Selesai shalat, pada jamaah Rasul mohon maaf karena sujudnya agak lama. “Para jamaah, karena cucuku ini saya sujud agak lama. Dia lari mengejarku serta naik ke punggungku saat saya tengah salat (sujud). Saya cemas akan mencelakakannya jika saya bangun dari sujud.” (HR Ahmad). Subhanallah, apa sekarang ini kita masih ada yanjg mempunyai kasih sayang semacam itu?

Sikap kasih sayang serta kelembutanlah, sebetulnya, yang sangat mungkin anak berubah menjadi dekat, yang mempermudah mereka menerima semua petuah serta didikan orang tuanya. Orangtua yang miskin kasih sayang akan anaknya, menurut Nabi, akan mengundang murka Allah SWT. Aisyah RA berkata, telah datang seseorang badui pada Nabi. Nabi menanyakan,” Apa kamu senang mencium anakmu?” Dijawab, “Tidak.” Nabi bersabda,” … atau saya kuasakan supaya Allah mencabut perasaan kasih sayang dari hatimu.” (HR Bukhari).

Anak menjadi Dzuriyah (Keturunan)


Anak ialah anugerah Allah SWT, tempat kita melanjutkan harapan serta garis keturunan. Seperti doa Nabi Zakaria AS:

“Disanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnyaserayaberkata: “WahaiRabbku, berilah aku dari sisi Engkau dzurriyah tayyibah (seorang anak yang baik). Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.”(QS. Ali Imran: 38)

Sewaktu Nabi Zakaria AS melihat sendiri kalau Allah SWT sudah memberikan rahmat pada Maryam berbentuk buah-buahan musim panas pada musim dingin serta buah-buahan musim dingin pada musim panas, waktu itu ia mengharap sekali ingin mempunyai seorang anak. Waktu itu ia sudah masuk umur tua, tulang-tulangnya mulai ringkih serta rambutnya sudah memutih. Di lain sisi, istrinya sudah tua serta bahkan juga mandul. Walau demikian, sesudah peristiwa yang dihadapi Maryam, ia mempunyai kemauan kuat untuk mempunyai seseorang anak dengan berdoa kepada Allah SWT, “Ya Rabbku, berilah saya dari sisi Engkau dzurriyah thayyibah.”

Buat orangtua, pasti ia mengerti benar jika anak meupakan rahmat serta nikmat yang dikasihkan Allah pada pasangan suami istri. Karena salah satunya maksud dari pernikahan ialah menjadi wasilah untuk memperoleh keturunan. Hingga, kedatangan seseorang anak di tengah-tengah keluarga menjadi nikmat tersendiri buat orangtua. Hadirnya selalu dinanti-nantikan. Hari demi hari, bulan demi bulan, orangtua akan selalu mengikuti perubahan si janin serta sesudah lahir, anak seakan-akan jadi perhiasan dunia buat orang tuanya.

Akan tetapi kejadian saat ini berlainan, beberapa orang tua yang tidak inginkan banyak anak atau hamil diluar nikah lantas orangtua itu menggugurkan janin. Ada juga yang terlanjur dilahirkan, tetapi karena kedatangan anak itu tidak diinginkan lantas orangtua itu membuang anaknya ke sungai, memutilasi, dan lain-lain. Karena itu Allah melaknat orangtua yang melakukan perbuatan demikian dalam firmanNya:

“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui [513] dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.”(Q.S. Al-An’am/6:140).

Beberapa ulama mengatakan jika diantara persyaratan dzurriyah thayyibah ini ialah anak yang mempunyai tingkah laku serta karakter yang menarik. Ada yang memiliki pendapat jika dzurriyah thayyibah ialah anak yang bertakwa pada Allah, shalih, serta diridhoi oleh Allah. Ada pula yang memiliki pendapat, jika dzurriyah thayyibah ialah anak yang membawa keberkahan buat orang tuanya, yaitu kebaikan yang banyak, baik masalah dunia ataupun agama.

Memperoleh dzurriyah thayyiban(keturunan yang baik) pasti jadi idaman tiap-tiap orangtua. Berikut doa beberapa orang sholih supaya diberikan dzurriyah thayyibah:

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.” (Q.S. Ibrahim/14:40)Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. Alfurqon/25:74)

Anak sebagai Fitnah (Ujian)


Secara bahasza arti fitnah yakni “fatana al-ma’din” berarti logam itu dibakar untuk mengetahui kwalitasnya, “fatana fulaanan ’an sya’i” (menggunakan huruf ta bukan tho) berarti melalaikan atau memalingkan dari suatu, atau “fatanahul maal serta fatanathul mar’ah” berarti tergoda dengan harta serta wanita. Menjadi sama dengan ungkapan diatas, fitnah menurut beberapa pakar bhs berarti ujian atau masalah dalam beragam macam memiliki bentuk. Ada ujian yang jelek seperti siksaan, kesulitan, penderitaan, penyakit serta lainnya seagainya. Ada pula ujian berbentuk kesenangan dunia, kekuasaan, kekayaan, wanita (istri) serta keturunan (anak).

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka) maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun: 14)

Dari ayat diatas diterangkan jika kadang ada istri atau anak bisa menjerumuskan suami atau bapaknya untuk mengerjakan perbuatan-peruatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Contoh lima kelompok anak istri yang dapat menjadi musuh: (1) melakukan perbuatan baik akan tetapi dihalang-halangi oleh anak serta istri mereka. (2) anak istri yang tidak memerintah pada ketaatan kepada Allah serta tidak melarang peruatan maksiat kepadaNya. (3) anak-anak yang akan memutus jalinan kekerabatan. (4) anak istri yang menyelisihi perintah agama. (5) anak istri yang mendorongmu untuk menguber dunia serta bermegah-megahan.

Bahkan juga pada ayat selanjutnya Allah SWT mengatakan jika anak ialah salah satu bentuk fitnah/cobaan (masalah serta musibah) buat orang tuanya jika tidak didik dengan baik:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan disisi Allah pahala yang besar.”

Dari ayat diatas bisa kita mengerti jika posisi anak menjadi ujian.Anak bisa membuat senang hati kedua orang tuanya pada saat anak itu berbakti pada mereka dan patuh dalam menjalankan ibadah. Akan tetapi, anak dapat juga membuat sulit kedua orang tuanya pada saat tidak berbakti dan tidak patuh melaksanakan ibadah. Ditambah lagi sampai terliat permasalahan kiminalitas atau kenakalan remaja yang lainnya. Mencoreng nama baik keluarga.

Pada saat anak mengerjakan perbuatan negatif sudah menjadi kewajiban orang tuanya untuk menegur, memberikan nasehat, serta mengarahkan menuju arah yang baik. Bukan justru menyia-nyiakannya. Karena anak ialah amanah (titipan) dan untuk memperoleh anak yang baik (dzuriyyah thayyiban). Hingga anak itu dapat jadi penyejuk hati untuk kedua orang tuanya (qurrota a’yun) dibutuhkan keseriusan serta ketekunan orangtua dalam membina mereka.

Orangtua sebaiknya jadi sosok untuk dicontoh anak-anak mereka. Karena anak adalah cermin dari orangtua. Contohnya, bila orangtua rajin shalat berjamaah, karena itu anakpun akan gampang kita ajak shalat berjamaah. Bila orangtua selalu bicara sopan serta lembut, karena itu anak merekapun akan gampang menirunya. Serta tidak kalah pentingnya ialah orangtua sebaiknya memerhatikan pergaulan anak-anaknya dalam lingkungan masyarakat. Karena teman sangat memiliki pengaruh pada perubahan kepribadian serta akhlak anak.

Kadangkala kita tidak perlu heran pada mereka yang menyia-nyiakan perintah Allah SWT didalam hak anak serta keluarga mereka. Andaikata api dunia mengenai anaknya atau hampir menyentuhnya, tentu ia akan berjuang sekuat tenaga untuk menghindari anaknya dari api itu. Mengenai api akhirat, maka ia tak ingin mencoba memebaskan anak-anak serta keluarganya dari api itu.

Padahal Allah SWT sudah berfirman yang mempunyai arti:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakakan Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada merekadan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim:6)

Seorang bapak merupakan penanggungjawa pertama, karena ia menjadi pemimpin dalam rumah tangganya, karena itu ia akan di tanya oleh Allah mengenai rumah tangganya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya atas kepemimpinannya, dan seorang istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suami dan anaknya, maka ia akan ditanya tentang mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karenanya, kedua orangtua mesti bangkit melakukan kewajiannya pada anak, berbentuk perhatian, pengawasan, serta pendidikan yang baik supaya nantinya menjadi generasi yang baik memberikan faedah buat orangtua umat islam, bangsa dan negara.

Anak sebagai Zinah (Perhiasan)


Allah SWT menjadikan segala sesuatu yanga ada di pemukaan bumi seagai perhiasan bagi kehidupan, termasuk di dalamnya adalah harta dan anak-anak. Allah SWT berfirman:

“Dijadikanindahpada (pandangan) manusiakecintaankepadaapa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanitadananak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik (surga).”(QS. Ali Imran:14)

Anak merupakan karunia dan hibah dari Allah SWT sebagai penyejuk pandangan mata, kebanggaan orangtua dan sekaligus perhiasan dunia serta belahan jiwa yang berjalan di muka bumi. Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat bangga dan senang atas beragai prestasi yang diperoleh anak-anaknya sehingga dia pun akan terbawa baik di depan masyarakat.Anak juga bisa menjadi nikmat yang mendatangkan kebahagiaan bagi orang tuanya. Yakni anak yang bisa mendatangkan manfaat bagi orang tuanya baik di dunia maupun di akhirat.

Seorang yang bijak, jika sudah mengetahui bahwa anak merupakan perhiasan, tentu ia akan menjaga perhiasan tersebut dengan sebaik-baiknya. Yakni dengan membekali pendidikan yang baik. Orang tua adalah sebaik-baiknya pendidik bagi anak. Cukuplah sebagai tanda jasa dan pujian bagi pendidik bahwa seorang hamba akan meraih pahala yang besar setelah wafatnya dan masa umurnya telah habis dn habis masa hidupnya.

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”

Jadi, seorang pendidik akan meraih derajat yang tinggi, pahala yang berlipat ganda dan meninggalkan pusaka yang mulia di dunia bagi anak cucunya.

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersada:

“Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, lalu ia berujar, ‘bagaimana mungkin aku mendapatkan derajat ini?’ maka dijawab, ‘hal ini lantaran anakmu telah memohon ampun(istighfar) untukmu.”(HR. Ibnu Majah)

Begitu pula dia akan dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan kerabatnya sebagai karunia alasan yang baik dari Allah SWT. Dalam firmanNya:

“Dan orang-orang yang eriman dan yang anak cucunya mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Ath-Thur: 21).

Anak ditinjau dari Perspektif Islam

TIMUR Times
Anak ditinjau dari Perspektif Islam
Anak ditinjau dari Perspektif Islam. Anak ialah anugerah terindah sekaligus juga amanah (titipan) yang Allah beri pada orangtua. Hingga orangtua mempunyai tanggungjawab yang besar dalam membesarkan serta mendidik dalam semua segi kehidupan. Tidak hanya menjadi amanah (titipan) anak sebagai keturunan (dzuriyah), tempat kita melanjutkan harapan serta garis keturunan. Seperti doa Nabi Zakaria AS dalam QS. Ali Imran: 38: Disanalah Zakaria mendoa pada Rabbnya sambil berkata: “wahai Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau dzurriyah tayyibah (seorang anak yang baik). Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” Anak dapat membuat senang hati kedua orang tuanya pada saat anak itu berbakti pada mereka, dan patuh dalam menunaikan ibadahnya. Akan tetapi anak dapat juga jadi fitnah (ujian) buat kedua orang tuanya, pada saat anak itu tidak berbakti dan tidak patuh melaksanakan ibadah ditambah lagi jika sampai ikut serta atau terlibat dalam permasalahan kriminal atau kenakalan remaja yang lain. Demikian sebaliknya bila ada anak yang membuat kedua orang tuanya senang dan bangga dengan beberapa prestasi yang diperolehnya hingga mengangkat harkat serta martabat keluarga di muka umum karena itu anak itu jadi perhiasan (zinah) untuk keluarganya.

Agama ialah fondasi yang sangat kuat yang dapat membentengi seorang dari semua hal negatif. Penanaman nilai-nilai agama pada anak mesti ditanamkan semenjak awal. Jiwa beragama atau kesadaran beragama berujuk pada ruhaniyah individu yang terkait2 pada Allah SWT serta pengaktualisasiannya lewat peribadatan kepadaNya, baik yang berbentuk hablumminallah ataupun hablumminannaas.

Oleh karenanya orangtua sebaiknya memerhatikan keperluan dalam perkembangan serta perubahan anak-anaknya supaya jadi anak yang sehat, baik jasmani ataupun rohani serta berakhlak mulia dan mempunyai kecerdasan yang tinggi.

Dalam islam anak miliki potensi menyandang status yang saling berlawanan, dapat membahagiakan, dapat juga mencelakakan. Dalam hal seperti ini arahan serta langkah mendidik orangtua pada anak begitu menentukan posisi itu khususnya tingkah laku/ etika orang tuanya. Karena suatu yang tampak semakin lebih kuat dampaknya dibanding suatu yang cuma di ketahui lewat indera pendengaran.

Berkaitan dengan eksistensi anak, Al-Quran menyebutkannya dengan istilah-istilah diantaranya:

Anak sebagai Amanah (Titipan) 


Anak adalah titipan harta yang sangat bernilai yang perlu dijaga, dirawat serta dididik supaya jadi penyejuk hati. Dalam masalah ini, kita mesti meneladani sikap Nabi Zakaria AS serta Nabi Ibrahim AS. Kedua Nabi ini selalu berdoa pada Allah Maha Pencipta.

“Dan orang-orang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. AlFurqon: 74)

Setelah diberi amanah oleh Allah, Nabi Ibrahim di masa tuanya tidak pernah berhenti bersyukur.

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Isma’il dan Ishaq. Sungguh Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (QS. Ibrahim :39)

Akan tetapi, belakangan ini demikian seringkali kita dengar, anak malah sering jadi sasaran kemarahan orangtua. Begitu juga kerap kita membaca atau mendengar dan melihat, kedua orangtua demikian teganya membuang bayi yang barusan dilahirkan. Ada yang dengan gampangnya memukul anak diluar kemampuan anak itu untuk menerimanya. Disulut rokok, disetrika, bahkan juga paling akhir dapat kita baca, dipukul menggunakan linggis sampai meninggal. Di lain sisi, ada pula orangtua yang jadikan anak seperti barang rebutan. Naudzubillahi min dzalik! Udah demikian tipiskah perasaan sayang orangtua pada anaknya, walau sebenarnya amanah mendidik serta menjaga anak itu yang pada waktunya mesti dipertanggungjawabkan di mahkamah Allah nantinya.

Dalam hal mendidik anak, Rasulullah SAW ialah sebaik-baiknya teladan. Pada diri Nabi diketemukan figur pendidik yang menghormati anak. Rasulullah sering menyuapi anak-anak kecil dengan kurma yang telah dimamahnya. Penuhnya hati Rasul dengan kasih sayang, membuat Beliau tidak geram saat dalam shalatnya yang kusyuk punggung Beliau dinaiki cucunya, Hassan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau justru melamakan sujudnya, sampai cucunya itu turun. Selesai shalat, pada jamaah Rasul mohon maaf karena sujudnya agak lama. “Para jamaah, karena cucuku ini saya sujud agak lama. Dia lari mengejarku serta naik ke punggungku saat saya tengah salat (sujud). Saya cemas akan mencelakakannya jika saya bangun dari sujud.” (HR Ahmad). Subhanallah, apa sekarang ini kita masih ada yanjg mempunyai kasih sayang semacam itu?

Sikap kasih sayang serta kelembutanlah, sebetulnya, yang sangat mungkin anak berubah menjadi dekat, yang mempermudah mereka menerima semua petuah serta didikan orang tuanya. Orangtua yang miskin kasih sayang akan anaknya, menurut Nabi, akan mengundang murka Allah SWT. Aisyah RA berkata, telah datang seseorang badui pada Nabi. Nabi menanyakan,” Apa kamu senang mencium anakmu?” Dijawab, “Tidak.” Nabi bersabda,” … atau saya kuasakan supaya Allah mencabut perasaan kasih sayang dari hatimu.” (HR Bukhari).

Anak menjadi Dzuriyah (Keturunan)


Anak ialah anugerah Allah SWT, tempat kita melanjutkan harapan serta garis keturunan. Seperti doa Nabi Zakaria AS:

“Disanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnyaserayaberkata: “WahaiRabbku, berilah aku dari sisi Engkau dzurriyah tayyibah (seorang anak yang baik). Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.”(QS. Ali Imran: 38)

Sewaktu Nabi Zakaria AS melihat sendiri kalau Allah SWT sudah memberikan rahmat pada Maryam berbentuk buah-buahan musim panas pada musim dingin serta buah-buahan musim dingin pada musim panas, waktu itu ia mengharap sekali ingin mempunyai seorang anak. Waktu itu ia sudah masuk umur tua, tulang-tulangnya mulai ringkih serta rambutnya sudah memutih. Di lain sisi, istrinya sudah tua serta bahkan juga mandul. Walau demikian, sesudah peristiwa yang dihadapi Maryam, ia mempunyai kemauan kuat untuk mempunyai seseorang anak dengan berdoa kepada Allah SWT, “Ya Rabbku, berilah saya dari sisi Engkau dzurriyah thayyibah.”

Buat orangtua, pasti ia mengerti benar jika anak meupakan rahmat serta nikmat yang dikasihkan Allah pada pasangan suami istri. Karena salah satunya maksud dari pernikahan ialah menjadi wasilah untuk memperoleh keturunan. Hingga, kedatangan seseorang anak di tengah-tengah keluarga menjadi nikmat tersendiri buat orangtua. Hadirnya selalu dinanti-nantikan. Hari demi hari, bulan demi bulan, orangtua akan selalu mengikuti perubahan si janin serta sesudah lahir, anak seakan-akan jadi perhiasan dunia buat orang tuanya.

Akan tetapi kejadian saat ini berlainan, beberapa orang tua yang tidak inginkan banyak anak atau hamil diluar nikah lantas orangtua itu menggugurkan janin. Ada juga yang terlanjur dilahirkan, tetapi karena kedatangan anak itu tidak diinginkan lantas orangtua itu membuang anaknya ke sungai, memutilasi, dan lain-lain. Karena itu Allah melaknat orangtua yang melakukan perbuatan demikian dalam firmanNya:

“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui [513] dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.”(Q.S. Al-An’am/6:140).

Beberapa ulama mengatakan jika diantara persyaratan dzurriyah thayyibah ini ialah anak yang mempunyai tingkah laku serta karakter yang menarik. Ada yang memiliki pendapat jika dzurriyah thayyibah ialah anak yang bertakwa pada Allah, shalih, serta diridhoi oleh Allah. Ada pula yang memiliki pendapat, jika dzurriyah thayyibah ialah anak yang membawa keberkahan buat orang tuanya, yaitu kebaikan yang banyak, baik masalah dunia ataupun agama.

Memperoleh dzurriyah thayyiban(keturunan yang baik) pasti jadi idaman tiap-tiap orangtua. Berikut doa beberapa orang sholih supaya diberikan dzurriyah thayyibah:

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.” (Q.S. Ibrahim/14:40)Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. Alfurqon/25:74)

Anak sebagai Fitnah (Ujian)


Secara bahasza arti fitnah yakni “fatana al-ma’din” berarti logam itu dibakar untuk mengetahui kwalitasnya, “fatana fulaanan ’an sya’i” (menggunakan huruf ta bukan tho) berarti melalaikan atau memalingkan dari suatu, atau “fatanahul maal serta fatanathul mar’ah” berarti tergoda dengan harta serta wanita. Menjadi sama dengan ungkapan diatas, fitnah menurut beberapa pakar bhs berarti ujian atau masalah dalam beragam macam memiliki bentuk. Ada ujian yang jelek seperti siksaan, kesulitan, penderitaan, penyakit serta lainnya seagainya. Ada pula ujian berbentuk kesenangan dunia, kekuasaan, kekayaan, wanita (istri) serta keturunan (anak).

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka) maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun: 14)

Dari ayat diatas diterangkan jika kadang ada istri atau anak bisa menjerumuskan suami atau bapaknya untuk mengerjakan perbuatan-peruatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Contoh lima kelompok anak istri yang dapat menjadi musuh: (1) melakukan perbuatan baik akan tetapi dihalang-halangi oleh anak serta istri mereka. (2) anak istri yang tidak memerintah pada ketaatan kepada Allah serta tidak melarang peruatan maksiat kepadaNya. (3) anak-anak yang akan memutus jalinan kekerabatan. (4) anak istri yang menyelisihi perintah agama. (5) anak istri yang mendorongmu untuk menguber dunia serta bermegah-megahan.

Bahkan juga pada ayat selanjutnya Allah SWT mengatakan jika anak ialah salah satu bentuk fitnah/cobaan (masalah serta musibah) buat orang tuanya jika tidak didik dengan baik:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan disisi Allah pahala yang besar.”

Dari ayat diatas bisa kita mengerti jika posisi anak menjadi ujian.Anak bisa membuat senang hati kedua orang tuanya pada saat anak itu berbakti pada mereka dan patuh dalam menjalankan ibadah. Akan tetapi, anak dapat juga membuat sulit kedua orang tuanya pada saat tidak berbakti dan tidak patuh melaksanakan ibadah. Ditambah lagi sampai terliat permasalahan kiminalitas atau kenakalan remaja yang lainnya. Mencoreng nama baik keluarga.

Pada saat anak mengerjakan perbuatan negatif sudah menjadi kewajiban orang tuanya untuk menegur, memberikan nasehat, serta mengarahkan menuju arah yang baik. Bukan justru menyia-nyiakannya. Karena anak ialah amanah (titipan) dan untuk memperoleh anak yang baik (dzuriyyah thayyiban). Hingga anak itu dapat jadi penyejuk hati untuk kedua orang tuanya (qurrota a’yun) dibutuhkan keseriusan serta ketekunan orangtua dalam membina mereka.

Orangtua sebaiknya jadi sosok untuk dicontoh anak-anak mereka. Karena anak adalah cermin dari orangtua. Contohnya, bila orangtua rajin shalat berjamaah, karena itu anakpun akan gampang kita ajak shalat berjamaah. Bila orangtua selalu bicara sopan serta lembut, karena itu anak merekapun akan gampang menirunya. Serta tidak kalah pentingnya ialah orangtua sebaiknya memerhatikan pergaulan anak-anaknya dalam lingkungan masyarakat. Karena teman sangat memiliki pengaruh pada perubahan kepribadian serta akhlak anak.

Kadangkala kita tidak perlu heran pada mereka yang menyia-nyiakan perintah Allah SWT didalam hak anak serta keluarga mereka. Andaikata api dunia mengenai anaknya atau hampir menyentuhnya, tentu ia akan berjuang sekuat tenaga untuk menghindari anaknya dari api itu. Mengenai api akhirat, maka ia tak ingin mencoba memebaskan anak-anak serta keluarganya dari api itu.

Padahal Allah SWT sudah berfirman yang mempunyai arti:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakakan Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada merekadan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim:6)

Seorang bapak merupakan penanggungjawa pertama, karena ia menjadi pemimpin dalam rumah tangganya, karena itu ia akan di tanya oleh Allah mengenai rumah tangganya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya atas kepemimpinannya, dan seorang istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suami dan anaknya, maka ia akan ditanya tentang mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karenanya, kedua orangtua mesti bangkit melakukan kewajiannya pada anak, berbentuk perhatian, pengawasan, serta pendidikan yang baik supaya nantinya menjadi generasi yang baik memberikan faedah buat orangtua umat islam, bangsa dan negara.

Anak sebagai Zinah (Perhiasan)


Allah SWT menjadikan segala sesuatu yanga ada di pemukaan bumi seagai perhiasan bagi kehidupan, termasuk di dalamnya adalah harta dan anak-anak. Allah SWT berfirman:

“Dijadikanindahpada (pandangan) manusiakecintaankepadaapa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanitadananak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik (surga).”(QS. Ali Imran:14)

Anak merupakan karunia dan hibah dari Allah SWT sebagai penyejuk pandangan mata, kebanggaan orangtua dan sekaligus perhiasan dunia serta belahan jiwa yang berjalan di muka bumi. Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat bangga dan senang atas beragai prestasi yang diperoleh anak-anaknya sehingga dia pun akan terbawa baik di depan masyarakat.Anak juga bisa menjadi nikmat yang mendatangkan kebahagiaan bagi orang tuanya. Yakni anak yang bisa mendatangkan manfaat bagi orang tuanya baik di dunia maupun di akhirat.

Seorang yang bijak, jika sudah mengetahui bahwa anak merupakan perhiasan, tentu ia akan menjaga perhiasan tersebut dengan sebaik-baiknya. Yakni dengan membekali pendidikan yang baik. Orang tua adalah sebaik-baiknya pendidik bagi anak. Cukuplah sebagai tanda jasa dan pujian bagi pendidik bahwa seorang hamba akan meraih pahala yang besar setelah wafatnya dan masa umurnya telah habis dn habis masa hidupnya.

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”

Jadi, seorang pendidik akan meraih derajat yang tinggi, pahala yang berlipat ganda dan meninggalkan pusaka yang mulia di dunia bagi anak cucunya.

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersada:

“Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, lalu ia berujar, ‘bagaimana mungkin aku mendapatkan derajat ini?’ maka dijawab, ‘hal ini lantaran anakmu telah memohon ampun(istighfar) untukmu.”(HR. Ibnu Majah)

Begitu pula dia akan dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan kerabatnya sebagai karunia alasan yang baik dari Allah SWT. Dalam firmanNya:

“Dan orang-orang yang eriman dan yang anak cucunya mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Ath-Thur: 21).

Tidak ada komentar