Social Items

Ads 728x90

Kriteria dalam Memilih Pasangan Hidup Sesuai Syariat Islam
Dalam menentukan persyaratan calon pasangan, Islam memberi dua segi yang butuh dilihat. Pertama, segi yang berkaitan dengan agama, nasab, harta dan kecantikan. Kedua, segi lain yang lebih berkaitan dengan selera pribadi, seperti persoalan suku, status sosial, corak pemikiran, kepribadian, dan beberapa hal yang berkaitan dengan permasalahan fisik termasuk juga permasalahan kesehatan dan sebagainya.

Permasalahan Yang Pertama 


Permasalahan yang pertama merupakan permasalahan yang berkaitan dengan standard umum. Yakni permasalahan agama, keturunan, harta serta kecantikan. Permasalahan ini sama dengan hadits Rasulullah SAW dalam haditsnya yang cukuplah masyhur.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ تُنْكَحُ اَلْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ  لِمَالِهَا  وَلِحَسَبِهَا  وَلِجَمَالِهَا  وَلِدِينِهَا  فَاظْفَرْ بِذَاتِ اَلدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat (HR. Bukhari dan Muslim)

Khusus permasalahan agama, Rasulullah saw. memang memberi penekanan yang lebih, karena menentukan wanita yang segi keagamaannya telah matang semakin lebih menguntungkan daripada istri yang kapabilitas agamanya masihlah setengah-setengah. Karena dengan keadaan yang masih tetap setengah-setengah itu, bermakna suami tetap harus bekerja ekstra keras untuk mendidiknya. Itupun kalaupun suami miliki potensi agama yang lebih. Tapi kalaupun kekuatannya pas-pasan, jadi harus suami mesti `menyekolahkan` kembali istrinya supaya mempunyai potensi dari bagian agama yang baik.

Tentunya yang disebut dengan bagian keagamaan bukan berhenti pada luasnya pandangan agama atau fikrah saja, tapi juga meliputi bagian kerohaniannya (ruhiyah) yang baiknya merupakan type seseorang yang miliki jalinan kuat dengan Allah SWT. Dengan detil dapat dicontohkan diantaranya :

  • Aqidahnya kuat 
  • Ibadahnya rajin 
  • Akhlaqnya mulia
  • Busananya serta dandanannya memenuhi standard pakaian muslimah 
  • Menjaga kohormatan dianya dengan tidak bercampur baur serta ikhtilath dengan lawan jenis yang bukan mahram 
  • Tak berpergian tanpa mahram atau pulang larut 
  • Fasih membaca Al-Quran Al-Kariem 
  • Ilmu dan pengetahuan agamanya mendalam 
  • Kegiatan hariannya mencerminkan wanita shalilhah 
  • Berbakti pada orang tuanya dan rukun dengan saudaranya 
  • Pintar memelihara lisannya 
  • Pintar mengatur waktunya dan tetap menjaga amanah yang dikasihkan kepadanya 
  • Tetap menjaga diri dari dosa-dosa walau kecil 
  • Wawasan syariahnya tidak terbata-bata 
  • Berhusnuzhan pada orang lain, ramah serta simpatik 

Sedang dari bagian nasab atau keturunan, adalah saran buat seseorang muslim untuk menentukan wanita yang datang dari keluarga yang patuh beragama, baik status sosialnya serta terpandang di dalam masyarakat. Dengan memperoleh istri dari nasab yang baik itu, diharapkan nanti akan lahir keturunan yang baik juga. Karena memperoleh keturunan yang baik itu memang sisi dari perintah agama, seperti yang Allah SWT firmankan didalam Al-Quran Al-Karim.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa : 9)

Demikian sebaliknya, apabila istri datang dari keturunan yang kurang baik nasab keluarga, seperti kelompok penjahat, pemabuk, atau keluarga yang pecah berantakan, maka semuanya itu sedikit banyak akan punya pengaruh pada jiwa serta kepribadian istri. Walau sebenarnya nanti peranan istri ialah menjadi pendidik buat anak. Apakah yang dirasa oleh seseorang ibu tentulah akan secara langsung tercetak demikian saja pada anak.

Pertimbangan dalam menentukan istri dari keturunan yang baik ini bukan bermakna menjatuhkan vonis untuk mengharamkan menikah dengan wanita yang kebetulan keluarganya kurang baik. Karena bukan hal yang tidak mungkin jika suatu keluarga akan kembali pada jalan Islam yang jelas serta baik. Akan tetapi masalahnya ialah pada berapa jauh keburukan nasab keluarga itu akan memiliki pengaruh pada calon istri. Diluar itu juga pada status kurang baik yang akan terus disandang terus di tengah masyarakat yang pada perkara tertentu susah di hilangkan begitu saja. Tidak jarang diperlukan waktu yang lama untuk menghilangkan cap yang terlanjur diberikan masyarakat.

Maka apabila masih tetap ada alternatif lain yang lebih baik dari bagian keturunan, seorang memiliki hak untuk pilih istri yang dengan garis keturunan lebih baik nasabnya.

Permasalahan Yang Kedua 


Permasalahan kedua berkaitan dengan selera subjektif seseorang terhadap calon pasanan hidupnya. Sebetulnya hal seperti ini bukan termasuk juga hal yang harus dilihat, akan tetapi Islam memberi hak pada seorang untuk menentukan pasangan hidup berdasar pada subjektifitas keinginan tiap-tiap individu ataupun keluarga serta lingkungannya.

Intinya, meskipun dari segi yang pertama barusan telah dipandang cukup, bukan bermakna dari bagian yang kedua dapat langsung sesuai. Karena permasalahan selera subjektif merupakan hal yang tidak dapat diremehkan demikian saja. Karena berkaitan dengan hak tiap-tiap individu serta hubungan dengan orang yang lain.

Sebagai contoh ialah kecenderungan dasar yang ada di setiap masyarakat buat menikah dengan orang yang satu suku atau sama rasnya. Kecenderungan ini tidak ada hubungannya dengan permasalahan fanatisme darah serta warna kulit, tetapi telah berubah menjadi bagian dari cenderung umum di sepanjang jaman. Serta Islam dapat menerima kecenderungan ini walau tidak juga menghidup-hidupkannya.

Karena jika suatu rumah tangga dibangun dari dua orang yang berangkat dari latar belakang budaya yang berlainan, walau masih tetap satu agama, tetap harus akan muncul beberapa hal yang dengan watak serta ciri-ciri susah di hilangkan.

Contoh yang lain ialah selera seorang untuk memperoleh pasangan yang miliki ciri-ciri serta karakter khusus. Ini adalah kemauan yang lumrah serta pantas dihargai. Contohnya seseorang wanita inginkan miliki suami yang lembut atau yang macho, adalah sisi dari hasrat seorang. Atau demikian sebaliknya, seseorang lelaki inginkan miliki istri yang bertipe wanita pekerja atau yang type ibu rumah-tangga. Ini bisa adalah hasrat semasing orang sebagai haknya dalam menentukan.

Islam memberi hak ini seutuhnya serta dalam batas yang lumrah serta manusiawi memang adalah suatu kenyataan yang tidak terhindar.

Kriteria dalam Memilih Pasangan Hidup Sesuai Syariat Islam

Kriteria dalam Memilih Pasangan Hidup Sesuai Syariat Islam
Dalam menentukan persyaratan calon pasangan, Islam memberi dua segi yang butuh dilihat. Pertama, segi yang berkaitan dengan agama, nasab, harta dan kecantikan. Kedua, segi lain yang lebih berkaitan dengan selera pribadi, seperti persoalan suku, status sosial, corak pemikiran, kepribadian, dan beberapa hal yang berkaitan dengan permasalahan fisik termasuk juga permasalahan kesehatan dan sebagainya.

Permasalahan Yang Pertama 


Permasalahan yang pertama merupakan permasalahan yang berkaitan dengan standard umum. Yakni permasalahan agama, keturunan, harta serta kecantikan. Permasalahan ini sama dengan hadits Rasulullah SAW dalam haditsnya yang cukuplah masyhur.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ تُنْكَحُ اَلْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ  لِمَالِهَا  وَلِحَسَبِهَا  وَلِجَمَالِهَا  وَلِدِينِهَا  فَاظْفَرْ بِذَاتِ اَلدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat (HR. Bukhari dan Muslim)

Khusus permasalahan agama, Rasulullah saw. memang memberi penekanan yang lebih, karena menentukan wanita yang segi keagamaannya telah matang semakin lebih menguntungkan daripada istri yang kapabilitas agamanya masihlah setengah-setengah. Karena dengan keadaan yang masih tetap setengah-setengah itu, bermakna suami tetap harus bekerja ekstra keras untuk mendidiknya. Itupun kalaupun suami miliki potensi agama yang lebih. Tapi kalaupun kekuatannya pas-pasan, jadi harus suami mesti `menyekolahkan` kembali istrinya supaya mempunyai potensi dari bagian agama yang baik.

Tentunya yang disebut dengan bagian keagamaan bukan berhenti pada luasnya pandangan agama atau fikrah saja, tapi juga meliputi bagian kerohaniannya (ruhiyah) yang baiknya merupakan type seseorang yang miliki jalinan kuat dengan Allah SWT. Dengan detil dapat dicontohkan diantaranya :

  • Aqidahnya kuat 
  • Ibadahnya rajin 
  • Akhlaqnya mulia
  • Busananya serta dandanannya memenuhi standard pakaian muslimah 
  • Menjaga kohormatan dianya dengan tidak bercampur baur serta ikhtilath dengan lawan jenis yang bukan mahram 
  • Tak berpergian tanpa mahram atau pulang larut 
  • Fasih membaca Al-Quran Al-Kariem 
  • Ilmu dan pengetahuan agamanya mendalam 
  • Kegiatan hariannya mencerminkan wanita shalilhah 
  • Berbakti pada orang tuanya dan rukun dengan saudaranya 
  • Pintar memelihara lisannya 
  • Pintar mengatur waktunya dan tetap menjaga amanah yang dikasihkan kepadanya 
  • Tetap menjaga diri dari dosa-dosa walau kecil 
  • Wawasan syariahnya tidak terbata-bata 
  • Berhusnuzhan pada orang lain, ramah serta simpatik 

Sedang dari bagian nasab atau keturunan, adalah saran buat seseorang muslim untuk menentukan wanita yang datang dari keluarga yang patuh beragama, baik status sosialnya serta terpandang di dalam masyarakat. Dengan memperoleh istri dari nasab yang baik itu, diharapkan nanti akan lahir keturunan yang baik juga. Karena memperoleh keturunan yang baik itu memang sisi dari perintah agama, seperti yang Allah SWT firmankan didalam Al-Quran Al-Karim.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa : 9)

Demikian sebaliknya, apabila istri datang dari keturunan yang kurang baik nasab keluarga, seperti kelompok penjahat, pemabuk, atau keluarga yang pecah berantakan, maka semuanya itu sedikit banyak akan punya pengaruh pada jiwa serta kepribadian istri. Walau sebenarnya nanti peranan istri ialah menjadi pendidik buat anak. Apakah yang dirasa oleh seseorang ibu tentulah akan secara langsung tercetak demikian saja pada anak.

Pertimbangan dalam menentukan istri dari keturunan yang baik ini bukan bermakna menjatuhkan vonis untuk mengharamkan menikah dengan wanita yang kebetulan keluarganya kurang baik. Karena bukan hal yang tidak mungkin jika suatu keluarga akan kembali pada jalan Islam yang jelas serta baik. Akan tetapi masalahnya ialah pada berapa jauh keburukan nasab keluarga itu akan memiliki pengaruh pada calon istri. Diluar itu juga pada status kurang baik yang akan terus disandang terus di tengah masyarakat yang pada perkara tertentu susah di hilangkan begitu saja. Tidak jarang diperlukan waktu yang lama untuk menghilangkan cap yang terlanjur diberikan masyarakat.

Maka apabila masih tetap ada alternatif lain yang lebih baik dari bagian keturunan, seorang memiliki hak untuk pilih istri yang dengan garis keturunan lebih baik nasabnya.

Permasalahan Yang Kedua 


Permasalahan kedua berkaitan dengan selera subjektif seseorang terhadap calon pasanan hidupnya. Sebetulnya hal seperti ini bukan termasuk juga hal yang harus dilihat, akan tetapi Islam memberi hak pada seorang untuk menentukan pasangan hidup berdasar pada subjektifitas keinginan tiap-tiap individu ataupun keluarga serta lingkungannya.

Intinya, meskipun dari segi yang pertama barusan telah dipandang cukup, bukan bermakna dari bagian yang kedua dapat langsung sesuai. Karena permasalahan selera subjektif merupakan hal yang tidak dapat diremehkan demikian saja. Karena berkaitan dengan hak tiap-tiap individu serta hubungan dengan orang yang lain.

Sebagai contoh ialah kecenderungan dasar yang ada di setiap masyarakat buat menikah dengan orang yang satu suku atau sama rasnya. Kecenderungan ini tidak ada hubungannya dengan permasalahan fanatisme darah serta warna kulit, tetapi telah berubah menjadi bagian dari cenderung umum di sepanjang jaman. Serta Islam dapat menerima kecenderungan ini walau tidak juga menghidup-hidupkannya.

Karena jika suatu rumah tangga dibangun dari dua orang yang berangkat dari latar belakang budaya yang berlainan, walau masih tetap satu agama, tetap harus akan muncul beberapa hal yang dengan watak serta ciri-ciri susah di hilangkan.

Contoh yang lain ialah selera seorang untuk memperoleh pasangan yang miliki ciri-ciri serta karakter khusus. Ini adalah kemauan yang lumrah serta pantas dihargai. Contohnya seseorang wanita inginkan miliki suami yang lembut atau yang macho, adalah sisi dari hasrat seorang. Atau demikian sebaliknya, seseorang lelaki inginkan miliki istri yang bertipe wanita pekerja atau yang type ibu rumah-tangga. Ini bisa adalah hasrat semasing orang sebagai haknya dalam menentukan.

Islam memberi hak ini seutuhnya serta dalam batas yang lumrah serta manusiawi memang adalah suatu kenyataan yang tidak terhindar.

Subscribe Our Newsletter