Social Items

Ads 728x90

Larangan Membujang dalam Islam
Larangan Membujang dalam Islam. Ketentuan Islam menyatakan bahwa tidak ada pelepasan kendali gharizah sksual untuk dilepaskan tanpa batas serta tanpa ikatan. Untuk itu sehingga diharamkannya zina serta semua yang membawa pada perbuatan zina.

Tapi dibalik itu Islam juga menentang tiap-tiap perasaan yang bertentangan dengan gharizah ini. Karena itu maka dianjurkannya agar menikah serta melarang hidup membujang serta dilarang juga melakukan kebiri.

Seseorang muslim tidak halal menentang perkawinan dengan asumsi, jika hidup membujang itu untuk berbakti kepada Allah sepenuhnya, walau sebenarnya dia sanggup menikah; atau mungkin dengan argumen agar bisa 100% mencurahkan hidupnya untuk melaksanakan ibadah serta akan memutus jalinan dengan duniawinya.

Rasulullah saw. mencermati, jika sebagian sahabatnya ada yang terkena dampak kependetaan ini (tidak ingin menikah). Karena itu, beliau menjelaskan, kalau sikap seperti itu merupakan sikap yang menentang ajaran Islam serta keluar dari sunnah Rasulullah saw. Olehnya itu, pikiran-pikiran seperti ini mesti diusir jauh-jauh dari umat Islam.

Abu Qilabah menyampaikan "Sebagian sahabat Rasulullah saw. punya maksud untuk menjauhkan diri dari duniawi serta meninggalkan wanita (tidak menikah serta tidak menggaulinya) dan akan hidup membujang. Maka berkata Rasulullah s.a.w, dengan suara geram lalu berkata:

'Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur lantaran keterlaluan, mereka memperketat terhadap diri-diri mereka, oleh karena itu Allah memperketat juga, mereka itu akan tinggal di gereja dan kuil-kuil. Sembahlah Allah dan jangan kamu menyekutukan Dia, berhajilah, berumrahlah dan berlaku luruslah kamu, maka Allah pun akan meluruskan kepadamu.

Kemudian turunlah ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُحَرِّمُواْ طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللّهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu mengharamkan yang baik-baik dari apa yang dihalalkan Allah untuk kamu dan jangan kamu melewati batas, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melewati batas. (QS. Al-Maidah: 87)

Mujahid berkata : Ada sebagian orang lelaki, salah satunya Usman bin Madh'un serta Abdullah bin Umar punya maksud untuk hidup membujang serta berkebiri dan menggunakan kain karung goni. Lalu turunlah ayat tersebut diatas.

Ada satu golongan sahabat yang datang ke tempat Nabi untuk bertanya pada isteri-isterinya mengenai ibadah Rasulullah saw. Selesai mereka diberitahu, seakan-akan mereka merasa ibadah mereka itu masihlah kurang. Lalu mereka saling berbicara: dimana kita disaksikan dari pribadi Rasulullah saw. sedang dia diampuni dosa-dosanya yang sudah berlalu ataupun mendatang? Salah seseorang diantara mereka berkata: Saya akan melakukan puasa sepanjang tahun serta tak kan berbuka. Yang ke-2 menyampaikan: Saya akan bangun malam serta tidak tidur. Yang ke-3 berkata: Saya akan menghindari diri dari wanita serta tak kan menikah selamanya. Namun sesudah berita itu sampai pada Rasulullah saw, kemudian ia menuturkan mengenai kesalahan serta tidak lurusnya jalan mereka, kemudian Rasulullah saw. bersabda:

لَكِنِّي أَنَا أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ  وَأَتَزَوَّجُ اَلنِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي  - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Namun saya bangun malam tapi juga tidur, saya berpuasa tapi juga berbuka, dan saya juga kawin dengan perempuan. Oleh karena itu barangsiapa tidak suka kepada sunnahku, maka dia bukan dari golonganku. (HR Bukhari Muslim)

Said bin Abu Waqqash berkata:

Rasulullah SAW menentang Usman bin Madh'un tentang rencananya untuk membujang. Seandainya beliau mengizinkan, niscaya kamu akan berkebiri. (Riwayat Bukhari)

Dan Rasulullah juga menyerukan kepada para pemuda keseluruhannya supaya kawin, dengan sabdanya sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ   يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ  فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abdullah bin Mas'ud ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabdakepada kami,"Hai para pemuda! Barangsiapa di antara kamu sudah mampu kawin, maka kawinlah. Karena dia itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan siapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena dapat menahan (HR. Bukhari Muslim)

Dari sini, sebagian ulama ada yang memiliki pendapat bahwa: menikah itu hukumnya wajib untuk dilaksanakan oleh setiap umat Islam, dan tidak boleh ditinggal bagi mereka yang mampu.

Sementara ada pula yang memberi pembatasan - wajib hukumnya - buat orang yang telah ada impian untuk menikah serta takut dianya melakukan perbuatan yang tak baik.

Tiap-tiap muslim tidak bisa menghalang-halangi dirinya sendiri agar tidak menikah karena khawatir tidak mendapatkan rejeki serta memikul yang berat pada keluarganya. Tapi dia mesti berupaya serta bekerja dan mencari anugerah Allah yang sudah dijanjikan untuk beberapa orang yang telah menikah itu untuk melindungi kehormatan dirinya sendiri.

Janji Allah itu dinyatakan dalam firmanNya seperti berikut :

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur 32)

Sabda Rasulullah SAW:

Ada tiga golongan yang sudah pasti akan ditolong Allah, yaitu: (1) Orang yang kawin dengan maksud untuk menjaga kehormatan diri; (2) seorang hamba mukatab yang berniat akan menunaikan; dan (3) seorang yang berperang di jalan Allah" (Riwayat Ahmad, Nasa'i, Tarmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim)

Olehnya itu, bagi kita umat Islam, jika ingin ditolong oleh Allah, maka menikalah untuk kebaikan dirimu sendiri, keberlangsungan umat manusia, dan keberlangsungan agama Islam.

Larangan Membujang dalam Islam

Larangan Membujang dalam Islam
Larangan Membujang dalam Islam. Ketentuan Islam menyatakan bahwa tidak ada pelepasan kendali gharizah sksual untuk dilepaskan tanpa batas serta tanpa ikatan. Untuk itu sehingga diharamkannya zina serta semua yang membawa pada perbuatan zina.

Tapi dibalik itu Islam juga menentang tiap-tiap perasaan yang bertentangan dengan gharizah ini. Karena itu maka dianjurkannya agar menikah serta melarang hidup membujang serta dilarang juga melakukan kebiri.

Seseorang muslim tidak halal menentang perkawinan dengan asumsi, jika hidup membujang itu untuk berbakti kepada Allah sepenuhnya, walau sebenarnya dia sanggup menikah; atau mungkin dengan argumen agar bisa 100% mencurahkan hidupnya untuk melaksanakan ibadah serta akan memutus jalinan dengan duniawinya.

Rasulullah saw. mencermati, jika sebagian sahabatnya ada yang terkena dampak kependetaan ini (tidak ingin menikah). Karena itu, beliau menjelaskan, kalau sikap seperti itu merupakan sikap yang menentang ajaran Islam serta keluar dari sunnah Rasulullah saw. Olehnya itu, pikiran-pikiran seperti ini mesti diusir jauh-jauh dari umat Islam.

Abu Qilabah menyampaikan "Sebagian sahabat Rasulullah saw. punya maksud untuk menjauhkan diri dari duniawi serta meninggalkan wanita (tidak menikah serta tidak menggaulinya) dan akan hidup membujang. Maka berkata Rasulullah s.a.w, dengan suara geram lalu berkata:

'Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur lantaran keterlaluan, mereka memperketat terhadap diri-diri mereka, oleh karena itu Allah memperketat juga, mereka itu akan tinggal di gereja dan kuil-kuil. Sembahlah Allah dan jangan kamu menyekutukan Dia, berhajilah, berumrahlah dan berlaku luruslah kamu, maka Allah pun akan meluruskan kepadamu.

Kemudian turunlah ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُحَرِّمُواْ طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللّهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu mengharamkan yang baik-baik dari apa yang dihalalkan Allah untuk kamu dan jangan kamu melewati batas, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melewati batas. (QS. Al-Maidah: 87)

Mujahid berkata : Ada sebagian orang lelaki, salah satunya Usman bin Madh'un serta Abdullah bin Umar punya maksud untuk hidup membujang serta berkebiri dan menggunakan kain karung goni. Lalu turunlah ayat tersebut diatas.

Ada satu golongan sahabat yang datang ke tempat Nabi untuk bertanya pada isteri-isterinya mengenai ibadah Rasulullah saw. Selesai mereka diberitahu, seakan-akan mereka merasa ibadah mereka itu masihlah kurang. Lalu mereka saling berbicara: dimana kita disaksikan dari pribadi Rasulullah saw. sedang dia diampuni dosa-dosanya yang sudah berlalu ataupun mendatang? Salah seseorang diantara mereka berkata: Saya akan melakukan puasa sepanjang tahun serta tak kan berbuka. Yang ke-2 menyampaikan: Saya akan bangun malam serta tidak tidur. Yang ke-3 berkata: Saya akan menghindari diri dari wanita serta tak kan menikah selamanya. Namun sesudah berita itu sampai pada Rasulullah saw, kemudian ia menuturkan mengenai kesalahan serta tidak lurusnya jalan mereka, kemudian Rasulullah saw. bersabda:

لَكِنِّي أَنَا أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ  وَأَتَزَوَّجُ اَلنِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي  - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Namun saya bangun malam tapi juga tidur, saya berpuasa tapi juga berbuka, dan saya juga kawin dengan perempuan. Oleh karena itu barangsiapa tidak suka kepada sunnahku, maka dia bukan dari golonganku. (HR Bukhari Muslim)

Said bin Abu Waqqash berkata:

Rasulullah SAW menentang Usman bin Madh'un tentang rencananya untuk membujang. Seandainya beliau mengizinkan, niscaya kamu akan berkebiri. (Riwayat Bukhari)

Dan Rasulullah juga menyerukan kepada para pemuda keseluruhannya supaya kawin, dengan sabdanya sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ   يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ  فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abdullah bin Mas'ud ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabdakepada kami,"Hai para pemuda! Barangsiapa di antara kamu sudah mampu kawin, maka kawinlah. Karena dia itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan siapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena dapat menahan (HR. Bukhari Muslim)

Dari sini, sebagian ulama ada yang memiliki pendapat bahwa: menikah itu hukumnya wajib untuk dilaksanakan oleh setiap umat Islam, dan tidak boleh ditinggal bagi mereka yang mampu.

Sementara ada pula yang memberi pembatasan - wajib hukumnya - buat orang yang telah ada impian untuk menikah serta takut dianya melakukan perbuatan yang tak baik.

Tiap-tiap muslim tidak bisa menghalang-halangi dirinya sendiri agar tidak menikah karena khawatir tidak mendapatkan rejeki serta memikul yang berat pada keluarganya. Tapi dia mesti berupaya serta bekerja dan mencari anugerah Allah yang sudah dijanjikan untuk beberapa orang yang telah menikah itu untuk melindungi kehormatan dirinya sendiri.

Janji Allah itu dinyatakan dalam firmanNya seperti berikut :

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur 32)

Sabda Rasulullah SAW:

Ada tiga golongan yang sudah pasti akan ditolong Allah, yaitu: (1) Orang yang kawin dengan maksud untuk menjaga kehormatan diri; (2) seorang hamba mukatab yang berniat akan menunaikan; dan (3) seorang yang berperang di jalan Allah" (Riwayat Ahmad, Nasa'i, Tarmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim)

Olehnya itu, bagi kita umat Islam, jika ingin ditolong oleh Allah, maka menikalah untuk kebaikan dirimu sendiri, keberlangsungan umat manusia, dan keberlangsungan agama Islam.

Subscribe Our Newsletter