Social Items

Ads 728x90

History of Ternate Sultanate Palace in North Maluku Province, Indonesia
The Ternate Sultanate Palace is located on the coastal plain in the village of Soa-Sio, Desa Letter C, Ternate City, North Maluku Province. The location of the Ternate Sultanate Palace is not far from the city center

The Ternate Sultanate had an important role in the eastern region of the archipelago from the XIII century to the XVII century. In its golden age, namely in the sixteenth century, the authority of the sultanate stretched from all regions in Maluku, North Sulawesi, islands in the southern Philippines, to the Marshall Islands in the Pacific.

On December 7, 1976, the Ternate Sultanate Palace was included as a cultural heritage object. The heirs of the Ternate Sultanate led by the Young Sultan Mudzafar Syah, surrendered the sultanate's palace to the Government of the Directorate General of Culture to be restored, maintained and preserved in accordance with the prevailing laws and regulations.

This palace is lined with walls with a height of more than 3 meters, which resembles a fortress. In this palace environment, there is also a royal settlement complex and his family, and the tomb complex of the sultanate's predecessors. This European-style palace overlooking the sea is in a complex with a sultanate mosque which was founded by Sultan Hamzah, the 9th Ternate Sultan.

The Current Ternate Sultanate Palace
The interior design of the palace is full of gold ornaments. In the inner room, there were clothes from embroidery, fancy gold threads, gold jewelry and giant necklaces of pure gold, crowns, shoulder bands, sleeves, earrings, earrings, rings and bracelets which were almost all made of gold. This is an indicator that the Ternate Sultanate had experienced a period of glory.

In addition, this magnificent palace also stores, maintains and exhibits heirlooms belonging to the sultanates, such as weapons (rifles, small cannons, round bullets, spears, machetes and shields), armor, royal clothes, war hats , household appliances, and ancient manuscripts (Al-Quran, edicts, and letters of agreement).

Not far from the palace, there are stalls selling souvenirs and special foods of North Maluku such as papeda (sago), crab walnuts, halua walnuts, bagea, and processed fish, such as fufu fish (smoked fish) and gohu fish

History of Ternate Sultanate Palace in North Maluku Province, Indonesia

Anak ditinjau dari Perspektif Islam
Anak ditinjau dari Perspektif Islam. Anak ialah anugerah terindah sekaligus juga amanah (titipan) yang Allah beri pada orangtua. Hingga orangtua mempunyai tanggungjawab yang besar dalam membesarkan serta mendidik dalam semua segi kehidupan. Tidak hanya menjadi amanah (titipan) anak sebagai keturunan (dzuriyah), tempat kita melanjutkan harapan serta garis keturunan. Seperti doa Nabi Zakaria AS dalam QS. Ali Imran: 38: Disanalah Zakaria mendoa pada Rabbnya sambil berkata: “wahai Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau dzurriyah tayyibah (seorang anak yang baik). Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” Anak dapat membuat senang hati kedua orang tuanya pada saat anak itu berbakti pada mereka, dan patuh dalam menunaikan ibadahnya. Akan tetapi anak dapat juga jadi fitnah (ujian) buat kedua orang tuanya, pada saat anak itu tidak berbakti dan tidak patuh melaksanakan ibadah ditambah lagi jika sampai ikut serta atau terlibat dalam permasalahan kriminal atau kenakalan remaja yang lain. Demikian sebaliknya bila ada anak yang membuat kedua orang tuanya senang dan bangga dengan beberapa prestasi yang diperolehnya hingga mengangkat harkat serta martabat keluarga di muka umum karena itu anak itu jadi perhiasan (zinah) untuk keluarganya.

Agama ialah fondasi yang sangat kuat yang dapat membentengi seorang dari semua hal negatif. Penanaman nilai-nilai agama pada anak mesti ditanamkan semenjak awal. Jiwa beragama atau kesadaran beragama berujuk pada ruhaniyah individu yang terkait2 pada Allah SWT serta pengaktualisasiannya lewat peribadatan kepadaNya, baik yang berbentuk hablumminallah ataupun hablumminannaas.

Oleh karenanya orangtua sebaiknya memerhatikan keperluan dalam perkembangan serta perubahan anak-anaknya supaya jadi anak yang sehat, baik jasmani ataupun rohani serta berakhlak mulia dan mempunyai kecerdasan yang tinggi.

Dalam islam anak miliki potensi menyandang status yang saling berlawanan, dapat membahagiakan, dapat juga mencelakakan. Dalam hal seperti ini arahan serta langkah mendidik orangtua pada anak begitu menentukan posisi itu khususnya tingkah laku/ etika orang tuanya. Karena suatu yang tampak semakin lebih kuat dampaknya dibanding suatu yang cuma di ketahui lewat indera pendengaran.

Berkaitan dengan eksistensi anak, Al-Quran menyebutkannya dengan istilah-istilah diantaranya:

Anak sebagai Amanah (Titipan) 


Anak adalah titipan harta yang sangat bernilai yang perlu dijaga, dirawat serta dididik supaya jadi penyejuk hati. Dalam masalah ini, kita mesti meneladani sikap Nabi Zakaria AS serta Nabi Ibrahim AS. Kedua Nabi ini selalu berdoa pada Allah Maha Pencipta.

“Dan orang-orang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. AlFurqon: 74)

Setelah diberi amanah oleh Allah, Nabi Ibrahim di masa tuanya tidak pernah berhenti bersyukur.

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Isma’il dan Ishaq. Sungguh Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (QS. Ibrahim :39)

Akan tetapi, belakangan ini demikian seringkali kita dengar, anak malah sering jadi sasaran kemarahan orangtua. Begitu juga kerap kita membaca atau mendengar dan melihat, kedua orangtua demikian teganya membuang bayi yang barusan dilahirkan. Ada yang dengan gampangnya memukul anak diluar kemampuan anak itu untuk menerimanya. Disulut rokok, disetrika, bahkan juga paling akhir dapat kita baca, dipukul menggunakan linggis sampai meninggal. Di lain sisi, ada pula orangtua yang jadikan anak seperti barang rebutan. Naudzubillahi min dzalik! Udah demikian tipiskah perasaan sayang orangtua pada anaknya, walau sebenarnya amanah mendidik serta menjaga anak itu yang pada waktunya mesti dipertanggungjawabkan di mahkamah Allah nantinya.

Dalam hal mendidik anak, Rasulullah SAW ialah sebaik-baiknya teladan. Pada diri Nabi diketemukan figur pendidik yang menghormati anak. Rasulullah sering menyuapi anak-anak kecil dengan kurma yang telah dimamahnya. Penuhnya hati Rasul dengan kasih sayang, membuat Beliau tidak geram saat dalam shalatnya yang kusyuk punggung Beliau dinaiki cucunya, Hassan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau justru melamakan sujudnya, sampai cucunya itu turun. Selesai shalat, pada jamaah Rasul mohon maaf karena sujudnya agak lama. “Para jamaah, karena cucuku ini saya sujud agak lama. Dia lari mengejarku serta naik ke punggungku saat saya tengah salat (sujud). Saya cemas akan mencelakakannya jika saya bangun dari sujud.” (HR Ahmad). Subhanallah, apa sekarang ini kita masih ada yanjg mempunyai kasih sayang semacam itu?

Sikap kasih sayang serta kelembutanlah, sebetulnya, yang sangat mungkin anak berubah menjadi dekat, yang mempermudah mereka menerima semua petuah serta didikan orang tuanya. Orangtua yang miskin kasih sayang akan anaknya, menurut Nabi, akan mengundang murka Allah SWT. Aisyah RA berkata, telah datang seseorang badui pada Nabi. Nabi menanyakan,” Apa kamu senang mencium anakmu?” Dijawab, “Tidak.” Nabi bersabda,” … atau saya kuasakan supaya Allah mencabut perasaan kasih sayang dari hatimu.” (HR Bukhari).

Anak menjadi Dzuriyah (Keturunan)


Anak ialah anugerah Allah SWT, tempat kita melanjutkan harapan serta garis keturunan. Seperti doa Nabi Zakaria AS:

“Disanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnyaserayaberkata: “WahaiRabbku, berilah aku dari sisi Engkau dzurriyah tayyibah (seorang anak yang baik). Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.”(QS. Ali Imran: 38)

Sewaktu Nabi Zakaria AS melihat sendiri kalau Allah SWT sudah memberikan rahmat pada Maryam berbentuk buah-buahan musim panas pada musim dingin serta buah-buahan musim dingin pada musim panas, waktu itu ia mengharap sekali ingin mempunyai seorang anak. Waktu itu ia sudah masuk umur tua, tulang-tulangnya mulai ringkih serta rambutnya sudah memutih. Di lain sisi, istrinya sudah tua serta bahkan juga mandul. Walau demikian, sesudah peristiwa yang dihadapi Maryam, ia mempunyai kemauan kuat untuk mempunyai seseorang anak dengan berdoa kepada Allah SWT, “Ya Rabbku, berilah saya dari sisi Engkau dzurriyah thayyibah.”

Buat orangtua, pasti ia mengerti benar jika anak meupakan rahmat serta nikmat yang dikasihkan Allah pada pasangan suami istri. Karena salah satunya maksud dari pernikahan ialah menjadi wasilah untuk memperoleh keturunan. Hingga, kedatangan seseorang anak di tengah-tengah keluarga menjadi nikmat tersendiri buat orangtua. Hadirnya selalu dinanti-nantikan. Hari demi hari, bulan demi bulan, orangtua akan selalu mengikuti perubahan si janin serta sesudah lahir, anak seakan-akan jadi perhiasan dunia buat orang tuanya.

Akan tetapi kejadian saat ini berlainan, beberapa orang tua yang tidak inginkan banyak anak atau hamil diluar nikah lantas orangtua itu menggugurkan janin. Ada juga yang terlanjur dilahirkan, tetapi karena kedatangan anak itu tidak diinginkan lantas orangtua itu membuang anaknya ke sungai, memutilasi, dan lain-lain. Karena itu Allah melaknat orangtua yang melakukan perbuatan demikian dalam firmanNya:

“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui [513] dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.”(Q.S. Al-An’am/6:140).

Beberapa ulama mengatakan jika diantara persyaratan dzurriyah thayyibah ini ialah anak yang mempunyai tingkah laku serta karakter yang menarik. Ada yang memiliki pendapat jika dzurriyah thayyibah ialah anak yang bertakwa pada Allah, shalih, serta diridhoi oleh Allah. Ada pula yang memiliki pendapat, jika dzurriyah thayyibah ialah anak yang membawa keberkahan buat orang tuanya, yaitu kebaikan yang banyak, baik masalah dunia ataupun agama.

Memperoleh dzurriyah thayyiban(keturunan yang baik) pasti jadi idaman tiap-tiap orangtua. Berikut doa beberapa orang sholih supaya diberikan dzurriyah thayyibah:

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.” (Q.S. Ibrahim/14:40)Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. Alfurqon/25:74)

Anak sebagai Fitnah (Ujian)


Secara bahasza arti fitnah yakni “fatana al-ma’din” berarti logam itu dibakar untuk mengetahui kwalitasnya, “fatana fulaanan ’an sya’i” (menggunakan huruf ta bukan tho) berarti melalaikan atau memalingkan dari suatu, atau “fatanahul maal serta fatanathul mar’ah” berarti tergoda dengan harta serta wanita. Menjadi sama dengan ungkapan diatas, fitnah menurut beberapa pakar bhs berarti ujian atau masalah dalam beragam macam memiliki bentuk. Ada ujian yang jelek seperti siksaan, kesulitan, penderitaan, penyakit serta lainnya seagainya. Ada pula ujian berbentuk kesenangan dunia, kekuasaan, kekayaan, wanita (istri) serta keturunan (anak).

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka) maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun: 14)

Dari ayat diatas diterangkan jika kadang ada istri atau anak bisa menjerumuskan suami atau bapaknya untuk mengerjakan perbuatan-peruatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Contoh lima kelompok anak istri yang dapat menjadi musuh: (1) melakukan perbuatan baik akan tetapi dihalang-halangi oleh anak serta istri mereka. (2) anak istri yang tidak memerintah pada ketaatan kepada Allah serta tidak melarang peruatan maksiat kepadaNya. (3) anak-anak yang akan memutus jalinan kekerabatan. (4) anak istri yang menyelisihi perintah agama. (5) anak istri yang mendorongmu untuk menguber dunia serta bermegah-megahan.

Bahkan juga pada ayat selanjutnya Allah SWT mengatakan jika anak ialah salah satu bentuk fitnah/cobaan (masalah serta musibah) buat orang tuanya jika tidak didik dengan baik:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan disisi Allah pahala yang besar.”

Dari ayat diatas bisa kita mengerti jika posisi anak menjadi ujian.Anak bisa membuat senang hati kedua orang tuanya pada saat anak itu berbakti pada mereka dan patuh dalam menjalankan ibadah. Akan tetapi, anak dapat juga membuat sulit kedua orang tuanya pada saat tidak berbakti dan tidak patuh melaksanakan ibadah. Ditambah lagi sampai terliat permasalahan kiminalitas atau kenakalan remaja yang lainnya. Mencoreng nama baik keluarga.

Pada saat anak mengerjakan perbuatan negatif sudah menjadi kewajiban orang tuanya untuk menegur, memberikan nasehat, serta mengarahkan menuju arah yang baik. Bukan justru menyia-nyiakannya. Karena anak ialah amanah (titipan) dan untuk memperoleh anak yang baik (dzuriyyah thayyiban). Hingga anak itu dapat jadi penyejuk hati untuk kedua orang tuanya (qurrota a’yun) dibutuhkan keseriusan serta ketekunan orangtua dalam membina mereka.

Orangtua sebaiknya jadi sosok untuk dicontoh anak-anak mereka. Karena anak adalah cermin dari orangtua. Contohnya, bila orangtua rajin shalat berjamaah, karena itu anakpun akan gampang kita ajak shalat berjamaah. Bila orangtua selalu bicara sopan serta lembut, karena itu anak merekapun akan gampang menirunya. Serta tidak kalah pentingnya ialah orangtua sebaiknya memerhatikan pergaulan anak-anaknya dalam lingkungan masyarakat. Karena teman sangat memiliki pengaruh pada perubahan kepribadian serta akhlak anak.

Kadangkala kita tidak perlu heran pada mereka yang menyia-nyiakan perintah Allah SWT didalam hak anak serta keluarga mereka. Andaikata api dunia mengenai anaknya atau hampir menyentuhnya, tentu ia akan berjuang sekuat tenaga untuk menghindari anaknya dari api itu. Mengenai api akhirat, maka ia tak ingin mencoba memebaskan anak-anak serta keluarganya dari api itu.

Padahal Allah SWT sudah berfirman yang mempunyai arti:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakakan Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada merekadan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim:6)

Seorang bapak merupakan penanggungjawa pertama, karena ia menjadi pemimpin dalam rumah tangganya, karena itu ia akan di tanya oleh Allah mengenai rumah tangganya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya atas kepemimpinannya, dan seorang istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suami dan anaknya, maka ia akan ditanya tentang mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karenanya, kedua orangtua mesti bangkit melakukan kewajiannya pada anak, berbentuk perhatian, pengawasan, serta pendidikan yang baik supaya nantinya menjadi generasi yang baik memberikan faedah buat orangtua umat islam, bangsa dan negara.

Anak sebagai Zinah (Perhiasan)


Allah SWT menjadikan segala sesuatu yanga ada di pemukaan bumi seagai perhiasan bagi kehidupan, termasuk di dalamnya adalah harta dan anak-anak. Allah SWT berfirman:

“Dijadikanindahpada (pandangan) manusiakecintaankepadaapa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanitadananak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik (surga).”(QS. Ali Imran:14)

Anak merupakan karunia dan hibah dari Allah SWT sebagai penyejuk pandangan mata, kebanggaan orangtua dan sekaligus perhiasan dunia serta belahan jiwa yang berjalan di muka bumi. Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat bangga dan senang atas beragai prestasi yang diperoleh anak-anaknya sehingga dia pun akan terbawa baik di depan masyarakat.Anak juga bisa menjadi nikmat yang mendatangkan kebahagiaan bagi orang tuanya. Yakni anak yang bisa mendatangkan manfaat bagi orang tuanya baik di dunia maupun di akhirat.

Seorang yang bijak, jika sudah mengetahui bahwa anak merupakan perhiasan, tentu ia akan menjaga perhiasan tersebut dengan sebaik-baiknya. Yakni dengan membekali pendidikan yang baik. Orang tua adalah sebaik-baiknya pendidik bagi anak. Cukuplah sebagai tanda jasa dan pujian bagi pendidik bahwa seorang hamba akan meraih pahala yang besar setelah wafatnya dan masa umurnya telah habis dn habis masa hidupnya.

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”

Jadi, seorang pendidik akan meraih derajat yang tinggi, pahala yang berlipat ganda dan meninggalkan pusaka yang mulia di dunia bagi anak cucunya.

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersada:

“Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, lalu ia berujar, ‘bagaimana mungkin aku mendapatkan derajat ini?’ maka dijawab, ‘hal ini lantaran anakmu telah memohon ampun(istighfar) untukmu.”(HR. Ibnu Majah)

Begitu pula dia akan dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan kerabatnya sebagai karunia alasan yang baik dari Allah SWT. Dalam firmanNya:

“Dan orang-orang yang eriman dan yang anak cucunya mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Ath-Thur: 21).

Anak ditinjau dari Perspektif Islam

Sejarah Kedatangan Islam di Tanah Para Raja Maluku dan Maluku Utara
Maluku adalah daerah yang memilki sejarah panjang serta telah diketahui sampai mancanegara terlebih derah Timur Tengah. Maluku banyak diketahui dengan sebutan Jazirah al-Mamluk atau Kepulauan Raja-raja. Sebutan ini bukan tanpa argumen, karena Maluku merupakan suatu negeri di Timur Indonesia yang begitu punya pengaruh dengan empat kerajaan yakni Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan.

Menurut pencarian sejarah, Maluku telah diketahui semenjak jaman Mesir di pimpin oleh Firaun dibuktikan dengan catatan tablet tanah liat yang diketemukan di Persia, Mesopotamia dan Mesir. Dalam catatan itu dijelaskan ada negeri dari timur yang begitu kaya, adalah tanah surga, dengan hasil alam berbentuk cengkeh, emas serta mutiara. Tanda-tanda itu memberikan indikasi tanah Maluku yang memang diketahui pengahsil Pala, Fuli, Cengkeh serta Mutiara semenjak jaman dulu.

Banyak catatan histori lainnya yang mengatakan mengenai Maluku diantaranya di kitab Nagarakretagama (1365), Catatan dari Dinasti Tang (618-906) di Cina. Ini menunjukkan keberadaan tanah Maluku benar-benar sangat tua serta mempunyai dampak terpenting didunia khususnya menjadi penghasil rempah- rempah.

Terkait dengan masuknya Islam di Maluku diketemukan beberapa versi menurut pandangan beberapa tokoh serta sejarawan. Buya Hamka dalam bukunya “Sejarah Umat Islam” yang mengulas sejarah perkembangan umat Islam dari mulai jaman jahiliyah menyebutkan bahwa Islam masuk di Maluku semenjak tahun 650 M atau 17 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad saw. Diterangkan bahwa pada saat itu sudah banyak pedagang Arab serta Persia yang beragama Islam ada di Maluku untuk mencari rempah-rempah. Bahkan juga diprediksikan mereka menikah dengan wanita pribumi serta kemungkinan meninggal dunia di sana.

Selain itu berdasarkan catatan Hikayat Ternate yang ditulis oleh Naidah dijelaskan jika pengislaman di Maluku berlangsung pada 643 H (1250 M). Diprakarsai oleh tokoh bernama Jafar Shadik atau Jafar Nuh yang hadir dari Jawa datang ke Ternate pada Senin 6 Muharam 643 H atau 1250 M. Diluar itu ada juga yang menyampaikan jika Islam masuk di Maluku pada abad ke-15 M dibawa oleh Syekh Mansur. Ia merupakan seseorang pedagang dari Arab yang menyiarkan Islam semasa Calano Caliati di Tidore. Dalam proses penyebaran Islam di Maluku juga dikenal nama lainnya, yakni Datu Maulana Hussein yang sebarkan Islam di wilayah Ternate pada saat pemerintahan Kalano Marhum.

Menurut cataan baangsa Portugis Islam masuk di Maluku sudah berada pada wilayah Ternate semenjak 1460 M. Ini berarti Islam telah ada serta turut memengaruhi kehidupan tatanan sosial walau belum juga cukup kuat. Hingga kemudian sewaktu Sultan Zainal Abidin (1486-1500) pengaruh Islam mengakar dalam penduduk. Beragam versi diatas pada umumnya menyetujui jika Islam masuk ke Maluku melalu jalan perdagangan. Zainal Abidin di ketahui sempat pergi ke Jawa untuk mendalami Islam. Ia belajar secara langsung dari ulama Sunan Giri atau wali terkenal di tanah Jawa kala itu.

Selanjutnya baru muncul empat kerajaan Islam di Maluku yang dikenal dengan sebutan Maluku Kie Raha (Maluku Empat Raja). Kesultanan Ternate yang di pimpin oleh Sultan Zainal Abidin (1486-1500), Kesultanan Tidore di pimpin oleh Sultan Mansur, Kesultanan Jailolo yang di pimpin oleh Sultan Sarajati, Kesultanan Bacan yang di pimpin oleh Sultan Kaicil Buko.

Sejarah Kedatangan Islam di Tanah Para Raja, Maluku dan Maluku Utara

Perjalanan Panjang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Papua
Islam adalah agama yang di turunkan untuk semua umat manusia. Oleh karena itu atas kehendak serta takdir Allah swt. menyebar ke seluruh pelosok dunia, tidak kecuali bumi Nusantara satu diantaranya wilayah Papua. Kedatangan Islam di bumi Papua mulai sejak lima ratus tahun yang lalu . Semangat syiar Islam sudah membawa muslim jaman itu menerjang derasanya ombak serta kuatnya gelombang hingga datang di bumi cendrawasih.

Berdasarkan catatan sejarah Papua telah diketahui begitu lama pada saat Kerajaan Sriwijaya, Papua disebut dengan sebutan Janggi. Pelaut Portugis yang sempat berkunjung di Papua tahun 1526-1527 M menyebut wilayah itu dengan sebutan ‘Papua. ’ Akan tetapi ada juga yang menyebut wilayah papua dengan sebutan "Isla de Oro" (Island of Gold). Kesamaan fisik orang Papua dengan orang Afrika membuat pelaut Spanyol mengatakan ‘Nieuw Guinea’, mengacu pada lokasi Guinea di Afrika Barat. Papua, mungkin saja datang dari bahasa Melayu, pua-pua, yang bermakna keriting. Arti ini digunakan oleh William Mardsen tahun 1812, serta ada dalam salah satunya kamus bahasa Melayu -Belanda karya Von der Wall tahun 1880, lewat kata ‘papoewah’ yang bermakna orang yang memiliki rambut keriting.

Syiar Islam di Bumi Papua terkonsentrasi di bagian Papua Barat, dari mulai Raja Ampat sampai Fakfak. Dalam perkembangannya terdapat banyak versi tentang perkiraan jalur masuk Islam di tanah Papua. Pertama, Menurut Versi Papua, berdasar pada legenda penduduk setempat, terutama di Fakfak. Islam bukan dibawa dari luar seperti Tidore atau pedagang Muslim, tapi Papua telah Islam semenjak Pulau Papua diciptakan oleh Allah. Kedua, Menurut versi Aceh. Versi ini berdasar pada sejarah lisan dari daerah Kokas (Fakfak) yang mengatakan Syekh Abdurrauf dari Kesultanan Samudera Pasai telah mengirim Tuan Syekh Iskandar Syah untuk berdakwah di Nuu War (Papua) pada tahun 1224 M. Syekh Iskandar saat itu membawa beberapa kitab yaitu mushaf Al Qur’an, kitab hadits, kitab tauhid serta kitab himpunan doa. Ada juga manuskrip yang ditulis diatas pelepah kayu, serupa daun lontara. Beberapa manuskrip itu dipercaya selamat dan masih ada sampai sekarang ini.

Menurut tradisi lisan lainnya di Fakfak, Islam disebarkan oleh mubaligh bernama Abdul Ghafar asal Aceh pada tahun 1360-1374 di Rumbati. Makam serta Masjid Rumbati menjadi bukti peninggalan sejarah. Akan tetapi informasi lainnya menyebutkan kalau Abdul Ghafar ada di Rumbati tahun 1502 M. Kemungkinan ini harus dilihat kembali, terlebih dalam soal waktu masuknya Islam. Kemungkinan Abdul Ghafar ada pada abad ke 16, berbarengan dengan waktu keemasan Kesultanan Ternate serta Tidore yang menjadi bandar jalur sutera serta meluaskan kekuasaannya dari Sulawesi sampai Papua.

Ketiga, Menurut versi Arab. Versi ini mengatakan jika Islam di Papua disebarkan oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al Qathan (Syekh Jubah Biru) dari Yaman, yang berlangsung pada abad ke 16. Perihal ini sesuai dengan bukti sejarah Masjid Tunasgain yang dibangun kurang lebih pada tahun 1587 M. Informasi lainnya menyebutkan bahwa Syekh Jubah Biru datang di papua pada tahun 1420 M.

Pandangan yang nampaknya lebih kuat tentang masuknya Islam di Papua ialah masuknya Islam di Papua lewat Kesultanan Bacan (Maluku Utara). Di Maluku ada empat Kesultanan, yakni, Bacan, Jailolo, Ternate serta Tidore (Moloku Kie Raha atau Mamlakatul Mulukiyah). J. T. Collins, mengatakan, berdasar pada analisis linguistik, Kesultanan Bacan merupakan Kesultanan paling tua di Maluku. Syiar Islam oleh Kesultanan Bacan disebarkan di wilayah Raja Ampat.

Ada banyak nama tempat yang disebut sebagai pemberian dari Sultan Bacan. Seperti Pulau Saunek Mounde (buang sauh di depan), Teminanbuan (tebing serta air terbuang), War Samdin (air sembahyang). War Zum-zum (penguasa atas sumur) dan sebagainya. Beberapa nama itu adalah sebagai bukti-bukti peninggalan nama-nama tempat serta keturunan Raja Bacan sebagai Raja-raja Islam di Kepulauan Raja Ampat. Kemungkinan Kesultanan Bacan sebarkan Islam di Papua kurang lebih pada pertengahan abad ke 15 dan abad ke 16, terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Raja Ampat, sesudah beberapa pemimpin-pemimpin Papua di Kepulauan itu berkunjung ke Kesultanan Bacan pada tahun 1596.

Perjalanan Panjang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Papua

Pandangan ini di dukung juga oleh catatan sejarah Kesultanan Tidore ‘Museum Memorial Kesultanan Tidore Sinyine Malige’, yang mengatakan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) lakukan ekspedisi ke Papua dengan satu armada kora-kora. Ekspedisi ini menyusuri Pulau Waieo, Batanta, Salawati, Misool di Kepulauan Raja Ampat. Di Misool, Sultan Ibnu Mansur yang kerap disebut sebagai Sultan Papua I, mengangkat Kaicil Patra War, putra Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi. Kacili Patra War lalu dinikahkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur, yakni Boki Thayyibah. Dari penikahan inilah Kesultanan Tidore memperluas pengaruhnya sampai ke wilayah Raja Ampat bahkan juga sampai di Biak.

Penyebaran Islam selanjutnya disebarluaskan ke beberapa wilayah pesisir Papua Barat, seperti Kokas, Kaimana, Namatota, Kayu Merah, Aiduma serta Lakahia oleh beberapa pedagang muslim seperti dari Bugis, Buton, Ternate serta Tidore. Kedatangan orang Buton didukung dengan kesaksian Luis Vaes de Torres di tahun 1606. Ia mengatakan di daerah pesisir Onin (Fakfak) sudah tinggal orang Pouton (Buton) yang berdagang serta sebarkan agama Islam.

Syi’ar Islam di Papua jadi lebih gampang karena persamaan budaya serta bahasa. Bahasa yang digunakan termasuk bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia, seperti bahasa di Bacan serta Sula (bahasa Biak di Raja Ampat ; Tobelo dan bahasa Onin di Fakfak serta Seram, ataupun bhs non Austronesia seperti di Ternate ; Tidore dan Jailolo karena masuk kelompok Bhs Halmahera Utara, yakni bhs Galela). Kemudahan komunikasi dengan beberapa pemimpin penduduk Papua, yang lalu memeluk Islam, menggerakkan berdirinya kerajaan-kerajaan (Petuanan) otonom dibawah Kesultanan Tidore. Kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini ada di Raja Ampat (Kolano Fat), yang masih terpatri sampai sekarang menjadi jati diri Pulau Papua. Kerajaan di Raja Ampat terbagi dalam Kerajaan Waigeo (yang berpusat di Weweyai), Kerajaan Salawati (berpusat di Sailolof), Kerajaan Misool (berpusat di Lilinta) serta Kerajaan Batanta.

Pengaruh Islam pada penduduk papua bisa diprediksikan dengan menyaksikan penerapan ajaran Islam yang ada di penduduk Papua waktu itu. Penerapan hukum Islam, contohnya, sudah diterapkan pada penduduk Pulau Misool, hinggak akhir masa kolonial Belanda. Disana ada Hakim Syara’ yang bekerja mengurus tentang perkawinan, kematian serta sholat berjamaa’ah. Hadirnya Masjid-masjid tua, misalnya Masjid Tunasgain, yang diprediksikan dibangun semenjak tahun 1587 M. Atau di Patimburak, yang diprediksikan semenjak abad ke 19 M.

Hadirnya Masjid ini selain peninggalan fisiknya, bisa juga kita prediksi kedudukannnya dalam penduduk. Adanya Masjid semenjak abad ke 16, mengisyaratkan lama sudah dilaksanakannya pendidikan Islam lewat khotbah Jum’at. Adanya Masjid dapat juga kita prediksikan berperan menjadi tempat pendidikan, walau berbentuk yang simpel di penduduk. Alur pendidikan sederhana ini bisa ditelusuri dengan ditemukannya kitab Barzanji, bertanggal 1622 M dalam bahasa Jawa Kuno serta teks khutbah Jum’at yang bertarikh 1319 M. Kedatangan kitab Barzanji, bisa kita prediksikan menjadi usaha untuk menumbuhkan kebiasaan Islam dalam masyarakat.

Pengaruh Islam yang lain dalam penduduk, bisa disaksikan dari beberapa nama yang ada dalam penduduk Papua pribumi. Di desa Lapintol serta Beo, biasanya, golongan pria menggunakan beberapa nama Arab seperti Idris, Hamid, Abdul Shomad, atau Saodah untuk wanita. Islam juga merubah tampilan penduduk. Bila di pedalaman Papua, penduduk aslinya belumlah kenakan pakaian, serta cuma tutup sisi vitalnya saja, tetapi di pesisir masyarakat Papua situasi begitu berlainan. Tidak bisa disangkal, Syiar Islam di Papua mengalami proses yang gradual. Masih tetap bisa diketemukan muslim Papua waktu itu yang meyakini keyakinan Animisme atau keyakinan lokal yang lain. Proses penyebaran Islam lewat kepala suku atau pemimpin masyarakat, membuat syi’ar Islam begitu tergantung pada kepedulian kepala suku itu. Demikianlah Islam berkembang di Papua dengan pasang surut persebarannya sampai saat ini.

Perjalanan Panjang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Papua

Kekuatan Sultan Baabullah dalam Menaklukkan 72 Pulau dan Portugis
Jauh sebelum terbentuknya negara Indonesia, kerajaan-kerajaan sudah berdiri dengan corak serta sistem pemerintahannya sendiri. Kesultanan Ternate merupakan satu kerajaan itu, yakni kerajaan yang mejadikan Islam menjadi dasar nilai serta fondasinya. Sultan Baabullah merupakan penguasa Kesultan Ternate yang mashur dikatakan sebagai sang penakhluk, bahkan juga ada yang mensejajarkan namanya dengan Salahudin Al-Ayubi.

Sultan Baabullah adalah putera Sultan Khairun yang lahir pada 10 Februari 1528 M. Ibunya merupakan permaisuri Boki Tanjung, puteri Sultan Alauddin I dari Bacan. Sultan Baabullah adalah sultan serta penguasa Kesultanan Ternate ke-24 setelah ayahnya wafat yang berkuasa pada tahun 1570-1583 M. Sultan Baabullah diketahui menjadi sultan Ternate serta Maluku paling besar selama sejarah, karena sukses menaklukkan Portugis. Ia sukses mengantarkan Ternate ke puncak keemasan diakhir abad ke-16.

Pada saat kepemimpinannya Sultan Baabullah mamapu memperlebar kekuasaannya sampai ke 72 pulau berpenghuni yang mencakup pulau–pulau di nusantara bagian timur, Mindanao selatan serta kepulauan Marshall. Beliau juga sebarkan Islam di beberapa daerah itu sesudah mengusir bangsa Portugis yang menjajah.

Waktu kecil Sultan Baabullah banyak belajar pengetahuan agama sekaligus juga pengetahuan perang. Ia serta saudra-saudranya dididik oleh beberapa mubalig serta panglima atas perintah ayahnya. Karena itu tidaklah heran saat menganjak remaja ia sudah ikut serta mengikuti ayahnya dalam menggerakkan urusan pemerintahan serta kesultanan.

Saat pecah perang Ternate–Portugis yang pertama (1559-1567 M), Baabullah menjadi satu diantara putra Sultan Khairun yang diutus menjadi panglima perang. Ia tampil jadi pangliam perang yang cakap serta sukses memberikan kemenangan untuk ternate. Portugispun tertekan serta tawarkan perundingan.

Pada tanggal 25 Februari 1570 M, Sultan Khairun wafat dibunuh saat menghadiri jamuan makan yang diselenggarakan oleh Portugis. Dalam jamuan makan itu semestinya membahas tentang membaiknya jalinan Ternate serta Portugis. Nyatanya utusan gubernur Portugis Lopez de Mesquita berkhianat serta memerintah pembunuhan pada Sultan Khairun.

Kematian Sultan Khairun langsung membuat rakyat dan raja-raja di Maluku serta dewan kerajaan geram. Kaicil (pangeran) Baabullah lalu dinobatkan menjadi Sultan Ternate dengan gelar Sultan Baabullah Datu Syah. Dalam pidato penobatannya Sultan Baabullah bersumpah jika ia akan berjuang untuk menegakkan kembali panji-panji Islam di Maluku serta jadikan kesultanan Ternate menjadi kerajaan besar dan bertindak untuk membalas perbuatan bangsa penjajah postugis, sampai orang paling akhir bangsa Portugis meninggalkan wilayah kerajaannya.

Tidak berselang lama sesudah penobatannya Sulban Baabullah secara langsung mengumpulkan pasukan serta membuat taktik perang. Ia lalu mengatakan jihad serta tampil jadi koordinator dari beberapa suku yang berlainan yang memiliki akar genealogis sama di nusantara wilayah timur. Raja-raja Maluku yang lainpun melupakan pertarungan mereka serta menyatu pada sebuah komando dibawah Sultan Baabullah serta panji Ternate, begitupun raja-raja serta kepala suku di Sulawesi dan Papua.

Sultan Baabullah mempunyai panglima – panglima yang andal, salah satunya Raja Jailolo Katarabumi, salahakan (gubernur) Sula Kapita Kapalaya, salahakan Ambon Kapita Kalakinka, serta Kapita Rubuhongi. Sultan Baabullah juga mempunyai 120.000 prajurit serta dapat mengerahkan 2000 kora-kora (perahu/kapal perang khas masyarakat Maluku).

Dengan kemampuan yang demikian besar benteng – benteng Portugis di Ternate yaitu Tolucco, Santo Lucia serta Santo Pedro dalam kurun waktu singkat bisa dikuasai. Cuma tersisa Benteng Sao Paulo tempat tinggal De Mesquita. Atas perintah Baabullah pasukan Ternate mengepung benteng Sao Paulo serta akan memutus hubungan dengan dunia luar, supply makanan dibatasi sekedar hanya supaya penghuni benteng dapat bertahan.

Sultan Baabullah dapat saja menguasai benteng itu dengan kekerasan akan tetapi ia tidak tega karena cukuplah banyak rakyat Ternate yang sudah menikah dengan orang Portugis serta mereka tinggal dalam benteng bersama dengan keluarganya. Sultan Baabullah lalu mencabut semua sarana yang diberikan sultan Khairun pada Portugis khususnya menyangkut misi Jesuit.

Perang Soya – Soya (perang pembebasan negeri) dikobarkan, posisi Portugis di beberapa tempat digempur habis – habisan, tahun 1571 pasukan Ternate berkekuatan 30 juanga yang berisi 3000 pasukan dibawah pimpinan Kapita Kalakinka (Kalakinda) menyerbu Ambon serta sukses mendudukinya.

Sampai selanjutnya tahun 1575 M semua kekuasaan Portugis di Maluku dijatuhkan. Setelah lima tahun orang-orang Portugis serta keluarganya hidup menanggung derita dalam benteng, terputus dari dunia luar menjadi balasan atas penghianatan mereka. Sultan Baabullah pada akhirnya memberikan peringatan supaya mereka tinggalkan Ternate kurun waktu 24 jam. Mereka yang sudah beristrikan pribumi Ternate diijinkan masih tinggal dengan prasyarat jadi kawula kerajaan.

Dengan kepergian orang Portugis, Sultan Baabullah jadikan benteng Sao Paulo menjadi benteng sekaligus juga istana, ia melakukan renovasi serta menguatkan benteng itu lalu merubah namanya jadi benteng Gamalama. Sultan Baabullah masih tetap meneruskan jalinan dagang dengan bangsa barat termasuk juga Portugis serta mengijinkan mereka tinggal di Tidore, namun tanpa pemberian hak spesial, beberapa pedagang barat diperlakukan sama juga dengan pedagang – pedagang dari negeri lainnya serta mereka masih dipantau dengan ketat.

Kekuatan Sultan Baabullah dalam Menaklukkan 72 Pulau dan Portugis

3 Datuk Asal Minangkabau Penyebar Islam di Sulawesi Selatan

Menilik jejak sejarah Islam di Sulawesi Selatan, akan tetap diidentikkan dengan kehadiran tiga mubalig dari Minangkabau yaitu Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, serta Datuk ri Patimang. Kehadiran mereka pada abad ke-17 M. Islam masuk ke Sulawesi Selatan sebetulnya telah ada semenjak abad ke- 16 M, akan tetapi penyebarannya belumlah demikian massif.

Umumnya sejarawan mencatat jika ke-3 datuk itulah pembawa ajaran Islam pertama di tanah Sulawesi Selatan. Nama mereka tertulis menjadi tokoh utama dalam penyebaran agama Islam. Akan tetapi, beberapa catatan serta peniggalan arkeologis mengatakan ada penyebaran Islam jauh sebelum ke-3 Datuk itu. Yaitu Sayyid Jamaluddin al- Akbar al-Husaini yang datang serta menyebarkan Islam di Wajo pada tahun 1320 M, tiga abad sebelum kehadiran Datuk Tellue’.

Tiga ulama ini begitu sampai di Sulawesi tidak secara langsung berdakwah, namun terlebih dulu membuat taktik dakwah. Mereka mendapatkan info jika raja yang sangat dimuliakan serta dihormati merupakan Datuk Luwu karena kerajaannya dipandang sebagai kerajaan paling tua serta tempat asal nenek moyang raja-raja Sulawesi Selatan. Sedang yang sangat kuat serta punya pengaruh adalah Raja Gowa dan Raja Tallo.

Sesudah mendapatkan info serta keterangan yang cukup, barulah mereka pergi ke Luwu untuk menjumpai Datuk Luwu, La Patiware Daeng Parabu. Mereka pada akhirnya sukses mengislamkan elite-elite kerajaan Gowa-Tallo serta membuat Islam menjadi agama yang sah di kerajaan pada tahun 1605. Datuk Luwu selanjutnya diberi nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin, sedang Raja Tallo Imalingkaan Daeng Mayonri Karaeng Katangka diberinama Sultan Abdullah Awalul Islam.

Sesudah sukses mengislamkan Datuk Luwu serta Raja Tallo, ke-3 ulama ini lalu menyebar serta membagi lokasi tujuan dakwah berdasar pada keadaan serta ketrampilan mereka. Abu Hamid menyampaikan dalam “Sistem Nilai Islam dalam Budaya Bugis-Makassar” seperti berikut :

Datuk ri Bandang atau Khatib Tunggal yang pakar dalam pengetahuan fikih bertugas di Kerajaan Gowa-Tallo. Penduduk yang dihadapi di kerajaan ini masih tetap memegang kuat kebiasaan lama seperti perjudian, minum ballo’, serta sabung ayam. Untuk mengislamkan mereka, cara dakwah yang dipakai yaitu dengan penegakan hukum syariat.

Datuk Patimang atau Khatib Sulung yang pakar tauhid bertugas di Kerajaan Luwu, karena keadaan masyarakatnya masih tetap berdasar teguh pada keyakinan nenek moyang mereka yang menyembah Dewata Seuwae. Datuk Patimang mengajari tauhid sederhana seperti sifat Tuhan. Penekanan tauhid ini untuk menggantikan Dewata Seuwae dengan konsep keimananan pada Allah Yang Maha Esa.

Datuk ri Tiro atau Khatib Bungsu yang pakar tasawuf bertugas di Bonto Tiro karena penduduk di daerah itu masih tetap memegang teguh ajaran – ajaran kebatinan serta sihir. Penduduk di Bonto Tiro populer seringkali memakai pengetahuan sihir atau kemampuan sakti (doti) untuk memusnahkan musuh. Mereka yakin dapat mengislamkan penduduk semacam itu dengan pengetahuan tasawuf.

Ke-3 Datuk ini sebarkan Islam sampai tutup usia serta dimakamkan di lokasi tugas mereka masing-masing. Datuk ri Bandang meninggal dunia serta dimakamkan di lokasi Tallo. Makam Datuk ri Bandang sekarang ada di Jl. Sinassara, Tallo, Makassar. Khatib Sulung lalu melanjutkan syiar Islam ke rakyat Luwu, Suppa, Soppeng, Wajo serta beberapa kerajaan yang belumlah memeluk Islam. Khatib Sulung meninggal dunia serta dimakamkan di Desa Patimang, Luwu, oleh karena itu ia bergelar Datu Patimang.

Sementara Datuk ri Tiro meninggal dunia serta dimakamkan di Tiro atau saat ini Bonto Tiro. Makam Datu ri Tiro bisa ditemui di Kelurahan Eka Tiro Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba. Untuk menghargai Datu ri Tiro, Pemerintah Kab. Bulukumba lalu menamai Islamic Center yang baru dibuat dengan nama Islamic Center Datu Tiro.

3 Datuk Asal Minangkabau, Penyebar Islam di Sulawesi Selatan

Wow, Ada Al-Qur’an Kuno di Alor, Bukti Sejarah Penyebaran Islam di NTT

Al-Qur’an buat umat Islam merupakan panduan dalam menjalani kehidupan yang bersumber langsung dari wahyu Allah. Karena itu tidaklah heran posisi Al-qur’an buat umat Islam begitu utama. Sering Al-‘Qur’an jadi pemberi tanda, panduan serta bukti atas persebaran Islam seperti Al-Qu’an kuno berumur ratusan tahun yang ada di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Al-Qu’an tersimpan dalam suatu rumah yang dimiliki keturunan Iang Gogo, penyebar agama Islam yang berasal dari Ternate - Maluku Utara.

Kitab suci itu terbuat dari kulit kayu masih tetap terlihat utuh serta bisa dibaca, hanya saja ada beberapa bagian yang mulai koyak termakan umur. Diprediksikan Al-Qur’an itu dibawa ke Alor kurang lebih pada tahun 1518 serta sampai kini disimpan dalam kotak kaca untuk menjauhkan dari sentuhan beberapa pengunjung yang datang untuk menyaksikan salah satu benda sejarah di Alor itu.

Nurdin Gogo pewaris Al-Qur’an ini sebagai keturunan ke-14 dari Iang Gogo selalu berupaya mengawasinya. Ia melarang penduduk atau pengunjung menyentuh Al-Qur’an tersebut secara langsung untuk menjaga agar kitab suci itu supaya selalu utuh. Ini dijalankannya karena tidak ada perawatan spesial yang ada di sana.

Al-Qur’an yang diwariskan dengan turun-temurun ini cuma bisa diwariskan pada anak lelaki pertama dari garis keturunan Iang Gogo, yang berada di Alor Besar, suatu desa pesisir yang berada kurang lebih 30 km dari Kota Kalabahi. Hanya sedikit orang yang tahu mengenai sejarah Al-Qur’an tua ini.

Secara fisik Alquran yang dimaksud terbuat dari kulit kayu ini masih tetap utuh, berisi 30 juz atau 114 surat yang ditulis memakai tinta berwarna hitam serta merah. Kotak kayu tua untuk menaruh Alquran ini juga masih tetap utuh. Al-Qur’an ini adalah salah satunya benda peninggalan Iang Gogo yang selamat dalam kebakaran pada 1982 kemarin.

Beberapa kelompok menyebutkan Al-Qur’an ini datang dari Timur Tengah, serta ditulis pada jaman Nabi Muhamad SAW. Seperti yang disebutkan Dosen Pascasarjana UIN Syarid Hidayatullah Jakarta Abdurrahim Yapono, Al-Qur’an kuno yang ada di Alor ini serupa dengan kibat suci umat Islam yang tersimpan di Mesir.

Walau sarat dengan nilai histori yang kuat kehadiran Al-Qur’an kuno ini belumlah lumayan mampu menarik minat pemerintah untuk memasukkan ke museum atau tempat lainnya. Perihal ini juga terkait dengan pesan leluhur yang memang tidak membolehkan Al-Quran kuno tersebut keluar dari rumah pewarisnya.

Wow, Ada Al-Qur’an Kuno di Alor, Bukti Sejarah Penyebaran Islam di NTT

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku

Benteng Belgica, adalah benteng yang di bangun oleh Portugis namun kemudian diduduki oleh Belanda pada abad ke 17. Benteng ini ada diatas perbukitan Tabaleku di samping barat daya Pulau Naira serta terdapat di ketinggian 30,01 mdpl. Benteng yang di bangun pada tahun 1611 dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Pieter Both ini mempunyai keunikan tersendiri.

Di bangun dengan gaya bangunan persegi lima yang ada diatas bukit, tetapi jika disaksikan dari semua pelosok pasti hanya akan tampak 4 buah bagian, tapi jika dilihat dari udara terlihat seperti bintang persegi atau serupa dengan Gedung Pentagon di Amerika Serikat. Bahkan benteng ini dijuluki dengan nama The Indonesian Pentagon.

Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis bangunan dan untuk memasukinya mesti memakai tangga yang aslinya berbentuk tangga yang bisa diangkat (seperti tangga hidrolik). Dibagian tengah benteng ada suatu ruangan terbuka luas untuk beberapa tahanan. Di dalam ruangan terbuka itu ada dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan serta Benteng Nassau yang ada di pinggir pantai.

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku

Benteng ini sebetulnya adalah satu diantara benteng peninggalan Portugis yang awalannya berperan menjadi pusat pertahanan, akan tetapi pada saat penjajahan Belanda, Benteng Belgica berganti kegunaan untuk memonitor lalu lintas kapal dagang. Benteng ini lalu diperbesar tahun 1622 oleh J. P. Coen. Selanjutnya, tahun 1667 diperbesar lagi oleh Komisaris Cornelis Speelman. Tahun 1911 Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum memerintahkan agar benteng ini dipugar. Benteng ini jadi markas militer Belanda sampai tahun 1860.

Pada tiap-tiap bagian benteng ada suatu menara. Untuk menuju puncak menara ada tangga dengan tempat hampir tegak serta lubang keluar yang sempit. Dari puncak menara ini wisatawan bisa nikmati pemandangan beberapa daerah Kepulauan Banda, dari mulai birunya perairan Teluk Banda, sunset, puncak Gunung Api yang menjulang, sampai rimbunnya pohon pala di Pulau Banda Besar. Jalan-jalan di seputar benteng ini begitu menyenangkan sembari membayangkan situasi waktu kolonial tempo dulu.

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku

Subscribe Our Newsletter